CERPEN KESAKSIAN GURU, KARYA KRIS DWI SOEKIRMAM - Koran Purworejo

Breaking




Sunday, January 16, 2022

CERPEN KESAKSIAN GURU, KARYA KRIS DWI SOEKIRMAM

 


KESAKSIAN GURU

Oleh. Kris Dwi Soekirman


Aku seorang guru yang dinilai galak, itu jika belum tahu maksud dan tujuannya. Prinsipku mengajar tidak hanya mentransfer ilmu saja, namun juga mendidik. Suaraku memang lantang, aku menghargai disiplin. 

Jika sudah tahu yang kumau, maka murid-murid ku pun senang dengan cara mengajar ku.

Aku manusia biasa, bahkan perasaan ku sangatlah peka, namun terkadang juga emosional. Mungkin wajar-wajar saja jika semua murid di kelas itu sudah mengumpulkan tugas yang lebih dari dua tugas, sedangkan Noris kelas VIII i belum sama sekali mengumpulkan. Ketika aku panggil, ia sanggup mengumpulkan minggu depan. Saat ada jam pelajaran, ia tidak masuk sekolah. Dua minggu ke depan barulah aku klarifikasi. Kali ini pendekatan dengan mata batin.

“Noris ... kenapa menghindar pelajaran ibu, apa jika menghindar urusan selesai, jika tidak tahu atau keberatan mengerjakan tugas, katakan terus terang”, kataku lirih.

Noris diam, menunduk, tanpa sepatah kata pun.

“Coba maskernya dibuka, rumahmu mana ...”, tanyaku.

Noris pun bercerita sambil menunduk. Ia betul- betul menyampaikan isi hatinya. Ternyata ia tidak mempunyai HP, sehingga ia tidak bisa mengikuti pembelajaran daring. 

“Saya tinggal di panti asuhan Bu, bapak saya telah meninggal, ibu saya bungkus tempe di tetangga, adik saya satu masih SD, jadi ibu saya tidak mau bekerja jauh”, jelas Noris tanpa ekspresi. 

Batinku mak jleg, aku tak bisa bicara banyak, bahkan air mataku hampir tak bisa dibendung. Satu sisi ingin disiplin, tegas, di sisi yang lain hati yang bicara, rasa pun menyapa.

***

Lagi-lagi aku ingin mendisiplinkan, ingin berbuat adil, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dipikul. 

Kali ini di kelas VIII J, nama yang sangat bagus Laksamana, ia baru masuk ketika teman yang lainnya sudah masuk selama hampir 3 bulan. Ia pun aku  panggil,  hati lagi yang bicara. Apalagi ia terkulai lemas di tempat tidur UKS, karena belum sarapan, dan kemarin sore tidak makan. Wali kelas sebelumnya menceritakan jika Laksamana ikut kakak kandung yang sudah berkeluarga. Karena faktor ekonomi, kakaknya terkadang masak terkadang tidak. Laksamana sudah tidak mempunyai ayah, sedangkan ibunya bekerja di luar kota, sulit berkomunikasi. Laksamana tidak mempunyai HP. Era milenia masih banyak yang belum mampu berkomunikasi dengan alat teknologi HP atau android. 

Catatan kecilku yang menyayat kalbu, sebagai pembelajaran untuk lebih peka rasa, untuk lebih memahami dalam menghadapi murid- murid. Masih banyak catatan- catatan yang mampu menguras air mata. Beruntung jika seorang murid dibesarkan dalam keluarga yang peduli pendidikan, yang memperhatikan tumbuh kembang putra putrinya. Merasa prihatin dan seakan batin menjerit ketika berhadapan dengan murid- murid yang sudah bermasalah. Masalah dari diri sendiri, masalah dari keluarga, atau masalah dari lingkungan. 

Jadi guru memang menyenangkan, selain memberi ilmu ternyata banyak belajar kehidupan dari seluruh murid, tanpa kecuali.

***


Yang paling hebat bagi guru, guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah mengajar. Ketika melihat murid- murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu  dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga. (K.H. Maimun Zubair).

*****

 PENULIS

 Kris Dwi Soekirman / Dra. Kris Dwi Ningsih, M.Pd. Ia aktif menulis, lebih dari seratus judul cerpen ia hasilkan. Lebih dari seribu judul puisi, beberapa artikel yang berhasil dimuat di surat kabar. Baginya apa saja yang dilalui dalam hidup merupakan inspirasi yang menarik untuk dijadikan tulisan. ‘Hidup adalah ibadah, tulisan merupakan amal jariah. Hingga kini lebih dari 20 judul buku telah ber-ISBN.

No comments:

Post a Comment