JADI DUTA PENTAS DI TAMAN MINI, SENIMAN MUDA PURWOREJO, USUNG SENDRATARI BEDHUG PENDAWA JATI. - KORAN PURWOREJO

Breaking

Kamis, 20 Mei 2021

JADI DUTA PENTAS DI TAMAN MINI, SENIMAN MUDA PURWOREJO, USUNG SENDRATARI BEDHUG PENDAWA JATI.

 


KORANPURWOREJO

PURWOREJO- Untuk mengisi Pentas Seni di Ajungan Provinsi Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Puluhan pelaku seni Kabupaten Purworejo mengusung sebuah pagelaran sendratari berjudul “Bedhug Pendowo Jati” 

Totalitas para pemeran

 Lewat garapan yang memadukan konsep tradisi dan kontemporer tersebut,  Tim Duta Seni Purworejo ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa Kabupaten Purworejo memiliki sebuah karya budaya agung sebagai penanda waktu shalat tiba dengan sejarah pembuatannya yang layak diapresiasi. 


Dijadwalkan, pertunjukan akan ditampilkan secara virtual melalui kanal youtube Badan Penghubung Jawa Tengah pada 6 Juni 2021 mendatang. Namun, proses penggarapan telah rampung dan produksi perekaman telah dilakukan pada Rabu  malam Kamis ( 19/5). 

Salah satu adegan dari pertunjukan tersebut.

“Seharusnya digelar di Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta. Namun, karena era pandemi, ada kebijakan dari Bapak Gubernur bahwa semua dilaksanakan secara virtual,” kata Kasubid Promosi dan Informasi Badan Penghubung Provinsi Jateng, Menuk Indriastuti, saat memantau produksi perekaman di Gedung Kesenian WR Supratman Purworejo. 


Menuk Idriastuti yang hadir bersama tim monitoring dari Badan Penghubung malam itu mengungkapkan, pementasan secara virtual kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat target penontonnya yakni warga di wilayah Jabodetabek. Duta seni harus mampu menyajikan pertunjukan yang entertaining (menghibur), tetapi tidak kehilangan nilai budaya sesuai dengan target Jateng yakni pelestarian seni budaya.


“Saya melihat pagelaran teatrikal Duta Seni Purworejo yang mengangkat tradisi budaya dengan konsep kontemporer ini sangat tepat. Ada energi kontemporer, energi modern oleh rekan-rekan muda Purworejo dan ini semangat yang disukai warga Jakarta,” ungkapnya. 

Lebih lanjut pihaknya menyebut bahwa dari 35 kabupaten/kota di Jateng, tidak semua mengirimkan duta seninya mengingat ada sejumlah daerah yang anggarannya di-refocusing untuk penanganan Covid-19. Hanya 27 kabupaten/kota yang dijadwalkan mengikuti.

 Menakakjubkan dan estetik

“Rencana tayang premier pada 6 Juni 2021 di kanal youtube Badan Penghubung Jawa Tengah. Kami bertanggung jawab untuk publikasi dan lain-lain,” sebutnya.

Pagelaran “Bedhug Pendowo Jati” berdurasi sekitar 55 menit tersebut melibatkan puluhan seniman tari dan teater muda Purworejo. Ketua Komunitas Teater Purworejo (KTP), Achmad Fajar Chalik, turun tangan langsung menulis naskah sekaligus menjadi penggarap teater atau pengadeganan. Sementara untuk penggarap tari dan geraknya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo) mempercayakan kepada seniman tari muda Purworejo, Sudrajat Dewandana SSn. 


Jumlah talent yang terlibat ada sekitar 35 orang, tetapi secara keseluruhan mencakup penata artistik dan musik, ada 55 seniman lebih. 

“Selain mengangkat sejarah Purworejo, Pentas Duta Seni kali ini sekaligus mengeksplor potensi seni budaya dan pelakunya. Kita mempercayakan konsep sampai garapannya pada seniman muda Purworejo serta melibatkan sebanyak mungkin seniman yang ada dari berbagai genre untuk berkolaborasi,” kata Kepala Dinparbud Purworejo, Agung Wibowo AP.


Menurutnya, selain pagelaran sendratari, Pentas Duta Seni juga akan didukung tampilan profil wisata, UMKM, serta ekonomi kreatif.

“Diharapkan dengan adanya penampilan secara virtual, baik seni budaya, pariwisata, UMKM, maupun dan ekonomi kreatif ini dapat lebih mempromosikan potensi-potensi yang ada di Kabupaten Purworejo,” tandasnya. 

Sementara itu, Achmad Fajar Chalik meyatakan bahwa Bedhug Pendowo yang hingga saat ini kemegahannya masih terpancar di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo memiliki nilai historis dan budaya yang perlu dilestarikan dan diketahui khalayak. Diharapkan, melalui media pertunjukan yang ditampilkan, masyarakat dapat lebih mudah mencerna.

“Tidak sekadar tontonan menghibur dengan banyak adegan serta sentuhan visual artistiknya yang menawan, pagelaran yang kita garap ini juga sarat pesan-pesan kehidupan. Bedhug Pendowo menjadi sebuah karya budaya agung sebagai penanda waktu shalat tiba dengan sejarah pembuatannya yang luar biasa.  Sebuah pengingat bagi manusia untuk tak lupa pada Tuhannya,” bebernya. 


Secara garis besar, pagelaran menampilkan kisah pembuatan Bedhug Pendowo pada tahun 1834 Masehi. Adegan dimulai dengan prolog berlatar waktu dan tempat berdirinya Kabupaten Purworejo pada 1831 M.

 Bupati Purworejo pertama, RAA Cokronagoro, memprakarsai berbagai pembangunan. Mulai dari Saluran Irigasi Kali Kedhung Putri yang memanjang dari utara keselatan, Dedalem Kabupaten, Pendopo Agung, Alun-Alun, hingga  Masjid Agung (1834 M). Untuk mengimbangi kebesaran dan kemegahan Masjid Agung, tercetuslah ide untuk membuat bedhug istimewa. Sebuah bedhug yang terbuat dari bahan pilihan yang gaungnya menggetarkan naluri relligiusitas manusia.

 

(top. roh. Sts  )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAYANGAN HALAMAN