PROGRAM 'KOIN' NGINGU WEDUS, DIDERA ISYU MASALAH, REBAN MIRMOREJO ANGKAT BICARA - KORAN PURWOREJO

Breaking

Sabtu, 13 Maret 2021

PROGRAM 'KOIN' NGINGU WEDUS, DIDERA ISYU MASALAH, REBAN MIRMOREJO ANGKAT BICARA




PURWOREJO

KORANPURWOREJO.COM

SUDAH Bukan menjadi rahasia lagi. Telah terjadi sejumlah masalah yang muncul di masyarakat terkait program Ngingu Bareng Domba, akhirnya mendapatkan tanggapan Dr Reban Mirmorejo, pembina Koperasi Konsumen Induk UMKM Indonesia (KOIN) di Kabupaten Purworejo.

Disampaikan Reban, dalam acara Dialog Ngingu Bareng didepan para wartawan  Purworejo dengan pihak KOIN di Rumah Makan Waroeng Simbok Sastro, jln. Tegal Galsari, Kecamatan Purworejo, Kamis (11/3/2021).


Di hadapan para wartawan dari berbagai media, Reban menyebutkan . 

"  Saat ini ada sekitar 297 kandang sudah  selesai dibangun dan semula siap diisi domba. Namun, setelah dilakukan uji coba, seluruhnya tidak sesuai kriteria yang ditetapkan, demikian alasan Reban.


Menurutnya, realisasi waktu pengisian domba dalam Program Ngingu Bareng KOIN di Kabupaten Purworejo belum ada kepastian. 

Menurut Reban , Pasalnya, dari sebagian kandang yang selesai dibangun dan semula dinyatakan siap diisi domba, ternyata belum sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.


“Kalau yang sudah berdiri, banyak. Ada seribuan, tapi yang siap ditempati ada sekitar 297 kandang. Setelah diuji coba ternyata belum sempurna dan belum layak sehingga perlu perbaikan, ”Reban didampingi pengurus KOIN.


Menjawab pertanyaan sejumlah wartawan yang terkait kejelasan waktu realisasi pengisian, Reban belum dapat memberikan kepastian. Namun, pihaknya menyatakan program Ngingu Bareng akan terus berjalan.

“Saya yakin bahwa program ini harus lanjut. Soal waktu dimulainya, ya dalam waktu Cipta-cepatnya, ”tandasnya.

Reban optimistis, pengisian domba dapat terwujud. Namun, harus secara bertahap mengingat program penggemukan domba ini melibatkan banyak pihak.


Reban menambahkan, beberapa waktu lalu telah ada uji coba pengisian 1.000 domba. "Kami telah mengisi kandang dengan 1.000 domba. Namun karena tidak memenuhi spek, domba tersebut ditarik kembali," jelasnya.

Reban menyebut, ketentuan bobot domba antara 17 hingga 20 kilogram per ekor. Karena bobot domba tersebut hanya 7 sampai 10 kilogram, maka pihaknya tidak mau menerima.


Rencana berikutnya, KOIN akan mengutamakan bibit-bibit domba lokal. Kemudian jika bibit lokal sudah tidak mencukupi, pengisian dalam jumlah banyak akan dilakukan melalui impor bibit dari Eropa.

“Kalau impor sekarang memang belum mendukung karena kita, perhitungkan minimal harus 12.000 ekor dengan ekor kandang minimal 400 kandang. Sedangkan kandang yang siap diisi saat ini belum ada segitu , ”katanya.


Pada bagian lain, Reban menjelaskan Program Ngingu yang digulirkan sejak Agustus 2019 hingga kini telah memiliki sekitar 3.000 calon mitra, meskipun ada beberapa orang yang telah menyatakan mengundurkan diri. Dengan target 10.000 kandang, Program Ngingu memiliki tujuan utama untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia dan menyejahterakan masyarakat dengan sistem kemitraan.

Dalam hal penyertaan modal, KOIN menggandeng PT Mega Jaya Gemilang. Sementara untuk pendirian kandang, PT MGJ menggandeng beberapa kontraktor utama dan selanjutnya sejumlah subkontraktor untuk pengerjaannya.

Mengenai adanya kemelut antara PT MGJ dengan para kontraktor utama dan antara kontraktor utama dengan sub kontraktor belum terbayarnya kandang, Reban menyebut hal itu terjadi akibat dampak pandemi Covid-19.

“Karena ini program pertama di Indonesia, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejak Agustus 2019 sampai Februari 2020 sudah ada kontrak untuk pendirian. Tapi Maret pandemi dan terkendala. PT MGJ tahun 2020 hampir tidak ada perbankan yang bisa mengeluarkan kredit sehingga terjadi pembayaran ke kontraktor utama , ”jelas Reban.

“Sekarang skema pembiayaan mulai jalan lagi. Jadi mitra tidak perlu tahu hiruk pikuknya di perusahaan, karena mitra itu tugasnya hanya ngingu, hanya merawat, "imbuhnya.

Menyikapi adanya polemik tersebut, Reban mengaku bahwa KOIN juga sudah mengambil langkah untuk menyelamatkan keberlanjutan program tersebut, yakni dengan pihak menegur pihak PT MGJ. Langkah selanjutnya melakukan akuisisi PT MGJ ke perusahaan pemilik start up pertanian dan peternakan yang berkedudukan di Jakarta, PT Legon Pari.

“Saya juga ambil langkah akuisisi agar program ini tetap jalan. Karena Sudah MoU, ”ungkapnya. 

(Nang Tirta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAYANGAN HALAMAN

IKLAN REDAKSI