"MAAFKAN SAYA " Cerpen Rahman Sudrajat - KORAN PURWOREJO

Breaking

Sabtu, 19 Desember 2020

"MAAFKAN SAYA " Cerpen Rahman Sudrajat

Pengantar Redaksi, KoranPurworjo memberi ruang publik . Menerima kiriman tulisan budaya , bisa cerpen, puisi , artikel lainnya. Akan dimuat setiap hari Minggu.


 "Maafkan saya…."

Cerpen : Karya Rahman Sudrajad


Hujan yang menggila petang ini derunya seperti ribuan tawon yang mengamuk . Aku yang terjebak hujan dahsyat terpaksa meminggirkan motorku tepat di gardu ronda pinggir jalan.

Suasana semakin gelap . Hujan bertambah dahsyat diiringi petir yang berkilat di pematang sawah depan pos ronda ini. Tak ada siapapun yang melintas hanya desau angin merambas pohon mahoni yang dahannya mulai patah tak kuasa menahan hujan dan angin.

Kurutuki nasibku sendiri kenapa juga tidak menurut kata Ibu untuk tidak pergi ke rumah Fatimah, Siswaku yang kecelakaan siang tadi.


“Sudahlah besok pagi saja ke rumah muridmu itu . Mendungnya sudah demikian gelap nanti kamu kehujanan.” Kata ibuku sambil mengelus jaketku .


“Tidak Ibu aku wali kelasnya. Aku harus ke rumahnya sekarang saya dengar agak parah kecelakaan yang menimpanya tadi ibu.” Sambil ku kenakan helm .

“Tapi sebentar lagi hujan Run. Tidak kau tidak kasihan anakmu menunggu di rumah ?” Ibu sekali lagi mengikuti langkahku sampai depan pintu ketika aku mulai mengeluarkan motorku.


Agak tersentak aku mendengar perkataan ibu. Anakku Desi sedang demam tinggi. Ku tengok sebentar kamarnya. Ingin langkahku melihat anakku satu satunya . Ibunya telah meninggal ketika usia Desi 2 tahun.  Sejenak aku ragu tapi ketika teringat tugasku sebagai wali kelas dan amanah kepala sekolah yang tadi memintaku untuk menengok Fatimah akhirnya mengurungkan niatku untuk masuk ke kamar Desi.


“Ibu nitip Desi ya. Aku mohon doanya selamat kembali ke rumah. “ sambil kuraih tangan ibu kemudian menciumnya untuk minta izin dan doanya.

Ibu seperti enggan melepas kepergianku. Tatapanya seperti khawatir kepergianku kali ini. Sampai pintu gerbang rumahku dari bambu ku dengar suara Desi memanggilku.

“Bapaak jangan pergiiii . !!”

Kulihat  sekilas Desi sambil sempoyongan berusaha mengejar akan tapi ditahan oleh ibu. Aku hanya melambaikan tanganku. Segera ku pacu motorku menuju daerah Sidodadi sekitar 20 km dari rumahku. 



Butuh kesabaran untuk sampai ke rumah Fatimah siswaku . Letaknya yang di daerah pegunungan menyulitkanku untuk sampai di sana bukan karena jauhnya akan tetapi medan yang menanjak tidaklah bersahabat untuk motor tuaku ini. Berkali kali motorku harus terbatuk batuk dan akhirnya macet ketika tidak kuat menapaki tanjakan terjal. 

Setelah bertanya tanya sampailah ke rumah siswaku . Betapa terkejutnya aku ketika di depan rumahnya sudah ada tenda dan kursi kursi di tata berjajar.


Ku beranikan diri bertanya kepada bapak bapak yang sedang lalu lalang di depanku.

“Mohon maaf apa benar ini rumah Fatimah siswa SMK Swarna Dwipa ?” tanyaku perlahan.

“Betul , Bapak ini siapa ?” orang itu balik bertanya.

“Saya gurunya Pak.” Jawabku 

“Oh Pak Guru , Fatimah sudah dimakamkan 1 jam yang lalu. 


“orang itu kemudian mempersilahkan ku duduk di disebelahnya. Diambilnya sedikit kue dan satu gelas aqua .

“Innalilahiwainnailaihirojiun…

Aku yang masih shock mendengar jawaban orang itu menurut saja diajak duduk di sebelahnya. Terbayang sosok Fatimah muridku yang cerdas dan ceria. Meskipun dari keluarga tidak mampu akan tetapi kemauan untuk belajar sangat tinggi. Dia selalu mendapatkan ranking 1 sejak kelas X hingga kelas XII semester 1 ini. Fatimah juga sosok anak yang sopan dan berprilaku baik . Sore kemarin kudengar berita dari teman teman bahwa Fatimah tertabrak Truk yang tiba tiba remnya blong sepulang sekolah. Maka pagi tadi disepakati aku diminta ke rumah Fatimah untuk melihat kondisi Fatimah karena aku wali kelasnya. 


“ Pak…Pak.. ,”kata orang itu sambil menggoyang ngoyangkan lenganku menyadarkanku dari lamunan tentang Fatimah.

“ Eh… iya Pak mohon maaf. Kejadiannya bagaimana kecelakaan itu Pak “tanya ku .

“ Siang kemarin setelah pulang sekolah Fatimah bermaksud membelikan nasi untuk adiknya di rumah mampir ke warung bu Hasan. .” orang itu mulai bercerita

“Warung bu Hasan yang mana Pak.” Tanyaku 

“ Warung di perempatan jalan sebelum pak Guru masuk ke Desa ini.” orang itu menjelaskan.

“ Oh …warung yang tadi saya lihat itu berarti. Kondisinya rusak parah . Di situkah Fatimah tertabraknya ?” tanyaku lagi.


“ Iya betul Pak guru. Warung itukan letalnya tepat setelah jalan turunan , nah truk yang membawa kayu albasiyah penuh muatan tiba tiba remnya blong dan langsung menabrak warung itu. .

“Astaghfirullahaladzim…Spontan aku membayangkan apa yang terjadi.

“ Warungnya banyak pengunjungnya Pak ?”.tanyaku kemudian 


“Tidak Pak Guru . Hanya Fatimah yang kebetulan pas beli di situ. Padahal biasanya warung itu sangat ramai. Posisi Fatimah pas berada di pintu masuk warung langsung tertabrak truk yang melaju cepat karena jalan yang menurun.

“Ya Allah . Yaa Robbi…Korbanya berapa pak , “aku mulai merasa tidak karuan.

“Hanya Fatimah. Karena pemilik warung masih mencuci warung di belakang warung . Sopir dan karnet juga sudah melompat dari truknya sebelum kejadian tabrakan itu.


“Innalilahiwainnailahi rojiun.” tak terasa air mataku menetes, dadaku terguncang hebat.

Entah kenapa hatiku merasa hancur mendengar siswaku mengalami nasib yang tragis ini

“ Fatimah terpental sekitar 5 meter karena tabrakan itu luka lukanya cukup parah pendarahan di kepala dan beberapa tulangnya patah. Orang sekitar segera menolongnya. Lalu di bawa ke Puskesmas. Akan tetapi sampai di sana tidak segera tertangani dengan baik  Pak. ,” orang itu menghentikan ceritanya. Ada yang mengganjal yang tertahan untuk disampaikan.


“Kenapa Pak ?” tanyaku.

“ Fatimah adalah Yatim Piatu hanya tinggal bersama neneknya. Tidak memiliki BPJS dan kartu kartu bantuan dari pemerintah. Puskesmas saat itu menanyakan siapa yang bertanggung jawab akan pengobatan Fatimah. Saat itu orang yang menolong hanya sekedar membawa Fatimah ke Puskesmas untuk menanggung biaya pengobatan dll mereka tidak sanggup karena mereka juga keluarga tidak mampu.

“Ya Allah..

“Lalu yang terjadi apa Pak ?”

“ Fatimah pendarahan terus menerus akhirnya meninggal di Puskesmas sebelum mendapatkan perawatan yang semestinya.”kata orang itu sedih.


“Bapak ini siapa ?” tanyaku

“Saya Pak Dhe nya. Ibu Fatimah adik saya.

“Terima kasih Pak Guru sudah menyempatkan untuk ke gubuk Fatimah. 

“ Mohon maaf Pak Guru namanya siapa ya. Saya Abdullah

“Saya Harun Pak…” jawabku singkat.

“Oh Pak Harun .. Saat koma Fatimah menyebut nama Bapak . Katanya Belum mengerjakan tugas Pak Harun.

Ya Allah selaksa runtuh langit di atasku. Anak cerdas dan rajin… Pagi kemarin setelah selesai pelajaran  memang kuberi tugas akan tetapi masih seminggu lagi dikumpulkan . Dan Fatimah ingin segera menyelesaikan. Fatimah tidak pernah terlambat menyelesaikan tugasnya. Selalu cepat dan paling awal mengumpulkannya.


“ Pak Abdullah,  Fatimah itu anak yang cerdas dan rajin. Tugas itu masih seminggu lagi dikumpulkan . “ jelasku.

“Oh begitu ya Pak Guru . Fatimah selesai sekolah selalu mengerjakan tugasnya . setelah itu bekerja di Kandang Haji Usman. Membersihkan kandang ayam pedaging sampai sore. Sebelum pulang mengambil cucian di rumah warga yang membutuhkan jasanya. Malam dia mencuci sampai pukul 9. Kemudian belajar untuk pelajaran esok harinya. Bangun pagi pukul 3 . Tahjud kemudian memasak untuk adik dan neneknya. .” cerita Pak Abdullah .


Seperti berondongan AK 47 tepat di jantungku. Fatimah ternyata begitu tangguh. Aku malu padaa diriku sendiri . Bekerja sering mengeluh dan merasa terlalu banyak pekerjaan yang di bebankan padaku. Guru honorer bergaji tak seberapa tapi bebannya kadang melebihi PNS di sekolahku.


“Siang itu karena cucian tetangga banyak Fatimah bangun kesiangan dan tak sempat memasak untuk adik dan neneknya yang sudah tua dan lumpuh. Makanya Fatimah ingin membelikan makan di warung. Tapi Allah lebih menyayanginya sehingga terjadi kecelakaan itu.”lanjut Pak Abdullah .


“Saat di Puskesmas apakah tidak ada tindakan yang memadai ?” tanyaku.

“Ada tapi karena pendarahan yang banyak dan peralatan di Puskesmas tidak cukup dan juga tidak adanya orang yang berani menanggung pembiayaan sampai sembuh akhirnya Fatimah meninggal.

“Harusnya segera di bawa ke rumah sakit 

Iya itu yang saya katakana Pak Guru. Fatimah tidak punya BPJS. Dan kalau tidak pakai BPJS biaya rumah sakit pasti tinggi sekali.

“ Lalu nenek dan adiknya sekarang di mana Pak Abdullah

“ Nenek dan adiknya sementara ada di rumah saya. Istri saya sebenarnya keberatan karena hidup kami juga pas pasan. Lalu kalau tidak dengan saya dengan siapa mereka tinggal.


Aku pun terdiam.

Lama kami sibuk dengan pikiran masing masing

“Oh ya pak Abdullah ini sekedar titipan dari sekolah mohon diterima.

“Terimakasih Pak.” dengan segera menerima amplop titipan dari sekolah.

Boleh saya diantarkan ke makam Fatimah.

Monggo silahkan. Kami berjalan beriringan menuju tempat pemakaman Fatimah .


Setelah berdoa khusuk di makam Fatimah aku pun bergegas pamit , Hujan langsung menyambutku ketika perjalanan pulang


Kulirik jam tanganku . sudah pukul 19.30. berarti satu setengah jam aku terpenjara di gardu ini. Semantara air semakin lama kulihat menggenang di persawahan. 

Suasana sangat sepi hanya deras hujan dan angin yang meliukkan pohon pohon di sekitar gardu ronda ini. Tiba tiba Diantara deras hujan kulihat samar samar sosok putih abu abu perjalan pelan ke arahku. Kenapa malam malam begini ada anak sekolah masih keluyuran ditengah hujan lebat begini. Apakah anak sekitar desa ini ya yang juga ingin berteduh bersamaku.


Perlahan tapi pasti bayangan itu semakin jelas . Berdiri tepat dihadapanku sambil menatap sayu. Semua mukanya berdarah tangan kanan dan kakinya Nampak patah. Aku tak bisa berkata kata apa hanya bisa terpaku diam dan tak bisa mengalihkan perhatianku padanya . Fatimah..

Perlahan di serahkan buku biru disampulnya tertutulis buku tugas. Seperti tersihir ku terima buku itu . sosok yang cukup menyeramkan itu seperti memintaku untuk membukanya.


Perlahan ku buka . ada tulisan besar di buku itu bertuliskan Maafkan saya…

Aku hanya bisa melangangguk .

Sosok itupun mengangguk pelan mundur perlahan lahan hingga hilang ditelan deras hujan.

Semua sendiku lemas tak bisa digerakkan … Tersandar lemah di tiang pos ronda ini . 

Tiba tiba HP ku berbunyi … kulihat panggilan 9 kali dari Ibuku…

Ku angkat telphonnya

“ Haruuuuun cepat pulang anakmu kritis di rumah sakit…

“ Iyaaaaa bu ….

Kupacu sepeda motorku tanpa peduli hujan . Anakku….

****

Rahman Sudrajat adalah seorang sarjana sastra Undip dan Lulusan S2. Menulis naskah drama  untuk festival , dan cerpen. Ia juga penggerak teater pelajar dan dunia  literasi. Tinggal di Mranti Purworejo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAYANGAN HALAMAN

IKLAN REDAKSI