SUTARKO EMPU ANGKLUNG, MASA PANDEMI, OERDER JADI SEPI. - Koran Purworejo

Breaking

 






Monday, October 26, 2020

SUTARKO EMPU ANGKLUNG, MASA PANDEMI, OERDER JADI SEPI.



KORANPURWOREJO.COM

Pituruh, Purworejo.

Guna memenuhi dan menopang kebutuhan hidupnya.  Pengrajin ( empu ) angklung Sutarko (66) warga Dukuh Krajan, RT/RW 01/01 Desa Polowangi  Kecamatan Pituruh Purworejo, karena masa pandemi, pentas seni sepi.  Beralih membuat anyaman  bambu seperti tampah dan tambir untuk dijual, guna memenuhi kebutuhan hidupnya.



Pembuatan angklung mengalami penurunan omset pesanan. Sampai saat ini bahkan Sutarko baru menjual dua set angklung saja. Angklung yang dijual Sutarko berjenis angklung slendro. 


Diceritakan, Sutarko bahwa ia menggeluti usaha kerajinan angklung sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, ia belajar secara otodidak. 


"Ada yang melihat bakat saya membuat angklung, lalu mendapat dukungan dari warga sekitar untuk membuat lalu dijual. " katanya.



Proses pembuatan angklung dikatakan Tarko, membutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih 1 bulan karena bahan untuk angklung ini harus benar-benar bambu kering.


"Pesan dan servisan angklung buatan saya ini sudah banyak mas, mulai dari kecamatan Bayan, Kemiri, Kutoarjo, bahkan pernah saya mengirim pesanan angklung ke Lampung. " kata Sutarko, saat ditemui KoranPurworejo.Com Minggu, 25/10/2020.



Untuk harga satu set angklung awalnya  pada tahun 2010 lalu harga satu set angklung satu set hanya dijual seharga Rp 900.000,00.


Namun seiring kemajyan Hal ini terjadi karena meningkatnya harga bahan produksi seperti rotan dan bambu. Sekarang dibandrol Rp. 3000.000,-


Untuk membuat satu set angklung dibutuhkan 10 pring wulung (bambu hitam) dan beberapa helai rotan untuk mengikatnya.


"Semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir, supaya pentas kesenian bisa digelar kembali. Para pekerja seni jadi bangkit lagi'' pungkasnya ( L/ sts).

No comments:

Post a Comment