Breaking News

Perlu Digalakkan Lembeknya Pemanfaatan Perpustakaan




Untuk memberi Ruang Publik Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan, seperti Artikel ,Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. 

Perlu Digalakkan Lembeknya Minat Pemanfaatan Perpustakaan

Oleh : Sri Palupi, S.Pd

Salah satu ciri-ciri maju adalah orang-orangnya yang haus akan informasi. Diantaranya adalah gemar membaca. Baik berupa buku-buku, literatur, surat kabar, atau berupa buku tulisan lain. Masyarakat semacam itu merupakan anggauta dari reading society atau merupakan masyarakat baca.

Ciri orang yang masuk dalam tetorial masyarakat baca, biasanya ia lebih mampu berkomunikasi, berinteraksi dengan lingkungan, mampu berfikir dinamis dan lebih mandiri.  Dengan berbagai ilmu yang tersimpan dalam dunia bacaan akan memungkian kemajuan, serta meningkatkan kaulitas yang sangat memiliki kuasalitas dengan mutu SDM seseorang.

Kegiatan membaca memang harus diakui, fungsinyasangat kompleks. Baik bagi dunia anak-abnak, pelajar, orang dewasa atau orang tua sekalipun. Tidak bisa disangkal, bahwa ilmu itu sangat memiliki kedekatan dengan dunia buku (bacaan).

Tapi menumbuhkan minat baca di masyarakat, lingkungan, keluarga, bahkan diri sendiri, bukan persoalan yang dapat dianggap gampang. Harus diakui, minat masyarakat Indonesia yang membaca buku di perpustakaan umumnya masih terasa kurang. Termasuk bagi para pelajarnya, mahasiswanya ayang seharusnya lebih banyak menggali ilmu pengetahuan dari berbagai buku-buku yang tidak mereka dapatkan di bangku pelajaran.

Padahal jumlah perpustakaan di Indonesia sebenarnya sudah cukup “lumayan”. Ada perpustakaan nasional, ada perpustakaan wilayah (27 buah), perpustakaan umum (254 buah) tersebar di tingkat kabupaten. Ada perpustakaan keliling 110 buah, ditingkat kecamatan 314 buah. Bahkan di tiap sekolah dasar ada 600 buah, sekolah SLTP dan SMTA ada 1.887 buah, belum termasuk sekolah-sekolah swasta yang juga diwajibkan memiliki perpustakaan.

Ditambah TBM/taman Bacaan Masyarakat, Proyek PLS tersebar di 10 desa  setiap kecamatan seluruh Indonesia. Dan sangat mungkin setiap tahun selalu bertambah.
Belum terhitung jumlah perpustakaan pribadi para cendikia atau budayawan yang juga diberlakukan untuk umum. Serta perpustakaan di berbagai perguruan tinggi dan perpustakaan yang sifatnya menjurus ke lembaga pemerintah maupun swasta termasuk milik media massa.

 Tidak ketinggalan perpustakaan di perwakilan-perwakilan asing yang ada di Indonesia.
Tidak heran bila kalangan akademis Barat sering melontarkan sindiran pada negara-negara yang baru berdiri setelah Perang Dunia ke II. “Soft State!” Negara Lembek!
Ujarnya.

Yang di maksud sindiran itu, adalah gambaran setting sosial masyarakat di negeri-negeri baru yang secara kultural masih sulit mengembangkan disiplin sosial. Sangat gampang membuat peraturan atau program, tetapi masyarakatnya sangat sulit diajak mewujudkan. Sangat sedikit yang bisa dijalankan sesuai target.

Sebagai negeri yang juga tergolong baru, bila kita mau jujur, isi kritik itu tidak mengecualikan masyarakat kita. Dengan kata lain masyarakat kita pun menggambarkan  keadaan sosial yang kurang lebih sama. Bila dihubungkan ke berbagai substansi kehidupan, di dalamnya termasuk masalah disiplin membaca, harus diakui masalah minat baca di perpustakaan sungguh masih terasa kurang.

Sampai-sampai tujuh tahun yang lalu, menyadari akan kurangnya minatnya masyarakat Indonesia memanfaatkan perpustakaan, pernah sekelompok kaum cendekiawan di Jakarta membentuk suatu “Panitia Nasional Kampanye Rindu Perpustakaan” (PNKRP).

Sebagai ketua dewan pembina Dr. Ibnu Hartomo, dan Ketua Pelaksana Hariannya Drs. M. Irsyad Djuwaeli.
Sasaran yang ingin dicapai dari kampanye sadar perpustakaan itu adalah menumbuhkan suasana tekun belajar, gemar membaca, rajin menulis, cinta buku dan rindu perpustakaan di kalangan masyarakat. Dengan kampanye tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat, pelajar/mahasiswa untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada.

Rupanya tidak perlu menuding satu persatu bagian mana yang mengakibatkan melemahnya minat baca masyarakat kita. Barangkali ini bagian dari siklus proses perjalanan pendewasaan masyarakat kita yang baru  menujun pendewasaan  ke masyarakat baca. Terbukti dengan demikian banyaknya jumlah perpustakaan yang dimiliki bangsa ini, jumlah pengunjung selalu relatif kecil.

Yang perlu diakui, dalam dunia perpustakaan kita, sampai saat ini pun masih menghadapi berbagai masalah, antaranya ; kondisi sebagian perpustakaan, jumlah buku yang tersedia, minimnya pengelola yang benar-benar terampil, serta kurang adanya stimulus respons (semacam ajakan) rutin dan terpadu dari yang berkompetens, untuk membangkitkan lemahnya minat baca masyarakat.

Penulis adalah seoran pendidik , tinggal di Purworejo, Jateng.

Tidak ada komentar