Breaking News

Maghnit Stasiun Lama Purworejo dan Sawunggalih Art Festival 2019


Untuk memberi ruang publik, RUBRIK BUDAYA Koran Purworejo , menerima karya  yang relevan. Seperti Artikel, Puisi, Cerpen, Laporan diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Digawangi oleh Sumanang Tirtasujana.

Maghnit Stasiun Lama Purworejo & Sawunggalih Art Festival 2019


Oleh. Ilhan Erda


“ Kebudayaan atau kesenian adalah ruh dari sebuah kota. Tanpa ada kegiatan ini, kota akan mamprung dan kosong. Seperti  lokan-lokan tanpa jiwa. “- Agus Riyanto ( Jakarta Selatan).

Ide awal dari Sawunggalih Art Festival ini pada dasarnya ialah setelah ada pertemuan, pergumulan dan interaksi dari para perantau inteletual, atau jamak di katakan sekarang sebagai diaspora. Ya benar, Diaspora Purworejo.

Pertemuan pertama di Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan yang di tuan rumahi oleh Prof. Agus Sartono dan berjalan lancar. Ada sekitar 70 an sedulur diaspora Purworejo yang datang baik dari profesional swasta, instansi pemerintahan dan beberapa kawula mudanya juga.


Gayung bersambut, di dasari atas rasa cinta yang sama, kepedulian yang sama dan visi besar yang sama pada dasarnya dari benak beliau-beliau yang bisa dikatakan berhasil di perantauan ini untuk ikut bersama-bersama membangun dan memberikan dedikasi apa yang bisa diberikan untuk kampung halamannya.

Sebenarnya secara personal dan parsial sudah ada dan berjalan. Kabupaten Purworejo yang terdiri dari 16 Kecamatan dan 495 desa ini terbilang banyak sekali komunitas atau paguyuban kedaerahan dan biasanya organisasi ini di punggawai oleh satu orang tokoh atau penasehat.


Nungki in Action  di Stasiun Lama Purworejo

Organisasi dan sosok ini juga ikut berkontribusi untuk kemajuan dan kebaikan Purworejo, entah dengan kegiatan sosial, memperbaiki jalan, festival daerah dan banyak lainnya.

Kembali ke atas, setelah pertemuan pertama di Kemenko PMK lantas, Bapak Dwi Wahyu Atmaji menawarkan diri menjadi tuan rumah Forum Diaspora Purworejo II yang di balut sekalian dengan Festival Purworejo di bilangan Jalan Jend Sudirman Jakarta Selatan dan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi.
Acara berjalan sukses. Bupati Purworejo, Dirut Angkasa Pura, Otorita Borobudur, Bank Indonesia dan tamu undangan se Indonesia beserta dinas terkait, rombongan besar kesenian dari Purworejo juga datang.



Selesai dengan silaturahmi ini, hajatan di depan mata sudah menyambut. Ya benar, Sawunggalih Art Festival II atau disingkat Sa, fest. Ide, gagasan ini bersumber dari tiga kata kunci yakni transportasi, bangunan bersejarah dan sosok kepahlawanan dari Tumenggung Sawunggalih Kartowiyogo. Maka, sepakat di festival di nisbatkan untuk mengenang, dan mengangkat potensi lokal yang bisa memperkuat jatidiri Kabupaten Purworejo.

Safest ini mencoba untuk bagaimana Purworejo ada sebuah festival yang bisa sedikit bersaing minimal dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya dalam lingkup Kedu Selatan dan Yogyakarta, di mana kita bersama sudah mendengar beberapa Kabupaten tersebut sudah ada festival yang paten, berjalan lebih dari lima tahun penyelenggaraan.

Purworejo sebenarnya sudah banyak festival. Tapi masalah klasik, pendanaan dan kondisi ekosistem yang kompleks di sana juga mungkin. Sebut saja ada Festival Bogowonto, WR Supratman Festival atau baru saja program Festival dari Pemkab seperti Festival Massal Dolalak dan Layang-layang. Banyak yang berguguran atau memang hanya di adakan sekali saja.


Nungki Nur Cahyani, penari profesional, seniman tari asli Kutoarjo alumni ISI Surakarta yang banyak melanglang buana di Surakarta, Yogyakarta dan kota-kota se Indonesia bukan sebuah kebetulan, dia sesekali pulang Kutoarjo dan di dapuk untuk memimpin Sawunggalih Festival ini bersama-sama dengan dukungan dari sedulur diaspora Purworejo semisal Dwi Wahyu Atmaji, Thoyibudin M Kodri, Imam Edy Mulyono, Romadi Abdul Kohar, Adjie S Soeraatmadjie, Setyawan dan banyak lainnya.

“ Semoga festival ini tidak hanya yang pertama dan terakhir.” Kemarin kalimat pendek tapi mengena ini meluncur dari lisan diaspora Purworejo di Jakarta, Bapak Setyawan. Cucu dari pendiri TNI, Jend TNI Urip Sumohardjo ini.
Ada juga dari pembimbing CPP, H. Romadi Abdul Kohar: “ Dengan semua ikut berkontribusi, sebenarnya bisa lancar kok acara ini.”  Dan banyak testimoni, komentar lainnya.

Nungki menjadi maghnit tersenfiri dalam SaFest

Safest tahun ini sudah mendapat ijin di tempat yang sama, yakni di Stasiun Lama Purworejo. Memanfaatkan bangunan cagar budaya yang tidak dipakai untuk kegiatan kebudayaan. Dan dalam tahun penyelenggaraan tahun ini di variasi dengan ada kegiatan workshop kesenian nya di Gedung Kesenian Purworejo.

Harapan dan doa baik kita bersama. Seandainya Safest ini bisa bertahan dan beberapa penyelenggaraan ke depan, bisa lebih banyak variasi program dan menjadi katalis untuk membawa banyak kegiatan serupa menjadi naik kelas. Sebuah kegiatan, festival kebudayaan yang bergerak dengan hati dan tidak meninggalkan akar, tapi tiada canggung untuk mencoba melangit. Hadapi terpaan angin kencang.

Banyak sekali diaspora Purworejo, perantau yang berhasil dengan posisi masing-masing. Skill dan pemikiran yang mumpuni dan pengalaman hidup yang sangat berarti untuk di tularkan kepada yang muda-muda dan di tiru ketauladanannya.

Bisa juga di katakan Safest kali ini adalah sebagai “ show case”. Seberapa solidkah, seberapa kompakkah, seberapa kuatkah persatuan dari para perantau Purworejo di luar sana untuk memberikan satu hajatan bersama, perayaan bersama dan pembelajaran bersama yang di adakan di kampung halamannya.

Kedu Selatan, khususnya Purworejo dari dulu banyak melahirkan “ orang besar, orang sukses, pejuang” . Apapun namanya itu, dengan spartanisme, heroik dan kerja kolektif yang baik. Sebut saja era saat itu ada Kentol Bagelen, Tentara Pelajar
dll.
Semoga dengan momentum Sawunggalih Art Festival ini kebersamaan dan kebangkitan peradaban baru yang gemilang dari Kabupaten Purworejo bisa terangkat kembali.

Ilhan Erda-Sidiq
Networker

Tidak ada komentar