Breaking News

Kasus Pembunuh Istri dan Mertua, PN Digrudug Warga Panggel , Minta Hukuman Mati



Warga Panggel Dlangu Kec.Butuh menggrudug PN Purworejo. Tuntut Gunardi dihukum mati. Foto dok humas polri

PURWOREJO ( KORANPURWOREJO) Pembataian sadis yang dilakukan Gunardi (36) warga Purworejo, Jawa Tengah tega menghabisi nyawa istri dan mertuanya, bahkan melukai anaknya.
Korban istrinya sendiri, Siti Sarah Apriyani (32) dan ibu mertuanya yakni Endang Susilowati (50) pada Minggu (5/5/2019)

Terdakwa yang merupakan ASN kementrian kehutanan, warga Desa Panggel Dlangu, Kecamatan Butuh, Purworejo. Kasusnya telah memasuki penuntutan menjelang vonis.

Sidang yang digelar di PN Purworejo Kamis (10/10) digrudug oleh ratusan tetangga korban dari  Dusun Panggel Desa Delanggu Kecamatan Butuh Purworejo.

Intinya mereka tidak terima karena terdakwa 'hanya' dituntut 20 tahun penjara oleh JPU Masruri Abdul Azis dari Kejari Purworejo. Warga minta Gunardi dihukum mati.

Kedatangannya juga membawa tulisan poster dengan berbagai tulisan protes. Bahkan mereka akan terus melaksanakan aksinya hingga sidang vonis yang direncanakan tanggal 24 Oktober mendatang.


Kapolres Purworejo turun langsung ke PN purworejo. Foto humas.

Hal itu karena dalam pembelaannya, kuasa hukum terdakwa, Is Supriyono, SH dari LBH Sakti sepakat dengan JPU bahwa tidak ada unsur perencanaan dalam peristiwa tersebut.

Bahkan pengacara juga meminta kepada majelis hakim yang diketuai oleh Mardison, SH memohon keringanan hukuman.
Diperkirakan warga Dlangu menjadi terusik dan marah.

Humas PN Syamsumar Hidayat menyampaikan, dalam persidangan  ada usulan dari pihak korban melalui pengacaranya agar dibuka sidang sekali lagi guna mendengarkan keterangan saksi dari pihak JPU.

"Mengacu pada pasal 182 KUHAP atas permintaan penuntut umum, sidang dapat dibuka sekali lagi untuk mendengarkan saksi dari JPU. Jadi agenda sidang tanggal 24 Oktober mendatang bisa jadi dua, pertama apabila majelis hakim pemeriksaan keterangan saksi dari PU yang diajukan oleh keluarga korban karena ada satu saksi yang belum dimintai keterangan oleh MH ataupun penyidik. Agenda kedua adalah pembacaan vonis," jelas Syamsumar Hidayat usai sidang.

Sementara itu, pihak keluarga korban pembunuhan, Didik Haryanto dari kantor pengacara Didik Haryanto & Rekan, Ponorogo Jawa Timur mengatakan, tuntutan jaksa tidak rasional dan sangat menyesalkan,  karena fakta yang terungkap diabaikan oleh JPU.

Diperoleh keterangan, Dengan diabaikannya fakta persidangan, maka unsur perencanaan sesuai pasal 340 tidak terpenuhi, sementara fakta persidangan unsur perencanaan terbukti.

Sementara Dari keterangan saksi di persidangan menyebut bahwa terdakwa telah menyiapkan obat bius, lakban dan pisau dari Jakarta," kata Didik.
(Nang).

Tidak ada komentar