Breaking News

Pejuang Kehidupan, Perempuan Perempuan Cantik Perkasa Pedagang Kelapa,



PITURUH ( KORANPURWOREJO.COM) --PEREMPUAN perempuan cantik dan perkasa ini, pantas diacungi jempol. Pasalnya ia tak ingin berpangku tangan. Tapi ia berani dan justru dengan senang memilih pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik. Bagaimana  tidak butuh fisik ? Karena dia mampu membawa 150 butir kelapa diatas kerombong  kayu di motornya.

Siapapun mungkin tidak percaya. Tapi inilah fakta hidup yang terjadi bagi 5 perempuan pedagang kelapa di Pasar Pituruh Purworejo. Mereka adalah Ponisih ( 41 ) Ana ( 29 )  Ngadyah , Sikas ( Warga Desa Brengkol Kecamatan Pituruh Purworejo ) . Serta Mbak Al  ( 42 ) warga Desa Kalikotes Kecamatan Pituruh.

Mereka mengaku memilih menjadi pedagang kelapa. Daripada di rumah tidak memiliki kegiatan produktif. " Itung itung membantu penghasilan keluarga. Tidak menggantungkan pada suami ", kata Ponisih. 

Ia mengaku, kerjanya mencari kelapa yang sudah dikupas kulit sabutnya dari petani langsung.  Kemudian saat pagi pagi, ia tata di kerombong kayu di motornya, lalu dibawa ke pasar Pituruh, yang jaraknya sekitar 5 Km dari rumahnya desa Brengkol.

Setelah sampai di Pasar Pituruh, para tengkulak dari Semarang, Klaten, Solo yang membeli dagangannya. 
Dari pantauan  wartawan KoranPurworejo, sedikitnya ada 50 orang  pedagang kelapa yang pakai motor. Namun diantara mereka ada 5 perempuan perempuan perkasa tersebut. Yang tidak kalah bersaing dengan para lelaki.

Mbak Al  mengaku, kadang dalam 1 hari bisa membawa 2 kali dagangannya ke pasar pituruh. Ia mengaku menata sendiri, serta mengendarai sendiri ke pasar Pituruh.
Saat ditanya keuntungannya, Ia menjawab "Lumayan pokoknya Pak, bisa buat tambah tambah. Tapi kadang juga pernah tidak untung, jika harga turun. Sementara kulaknya di petani sudah tinggi ", Ungkapnya.

Mereka mengaku, dari sore menjelang malam, sudah menata kelapanya di kerombong di motornya. Sesudah subuh, baru berangkat kepasar Pituruh. Membawa dagangannya.
Di Pasar Pituruh sejak pukul 04.00 WIB ( pagi ) sudah ramai  terjadi transaksi, hingga pukul 08.00 WIB.

 Bagi Ponisih dan rekan rekannya, setelah dagangannya laku pada tengkulak.  Ia mengaku masih punya waktu untuk menemui para petani di jalan. Mencari seseran. Ia beli dari petani, lalu dibawa ke pasar lagi sebelum pukul 08.00, sebelum para tengkulak luar kota pada pulang.


Sampai berita ini ditulis Selasa (  22/1 ) harga kelapa di pasar Pituruh berfariasi kisaran Rp. 2800, - hingga Rp 4000,-  Sedang jumlah kelapa yang dibeli tengkulak Semarang dan Klaten setiap  Senin , Selasa, Kamis dan Jum,at mencapai kisaran 40 Truk.


Para pedagang kelapa perempuan tersebut, mengaku, dari jerih payahnya setiap hari bisa mendapat upah untung sekitar Rp.30.000,- hingga Rp.50.000, Tinggal berapa jumlah kelapa yang dibawanya. Namun mereka mengaku, pernah juga tidak mendapat untung, manakala harga turun. 

Dalam pengamatan wartawan KoranPurworejo.com,  para perempuan pejuang kehidupan yang memilih jadi pedagang kelapa di pasar Pituruh, mereka juga modis - modis dan santun dalam berpakaian, maupun ucapannya . Semuanya juga mengenakan kerudung.
Hanya saja sesuai jaman, dan tuntutan kelincahan untuk mengendarai motornya, mereka banyak memilih mengenakan celana Mungkin lebih simpel dan memudahkan dalam gerak saat mengendarai motornya. ( Nang Tirta).

Tidak ada komentar