Breaking News

Berkait Bendungan, Warga Tolak Tambang Material di Desa Wadas.


BENER ( KORANPURWOREJO.COM )--- RENCANA Pemerintah untuk pembuatan bendungan Bener didukung oleh warga Wadas, namun dalam pembangunannya yang mengambil matrial batu quarry di Desa Wadas ditolak oleh warga, Rabu 9/1/19.

Mereka merasa keberatan karena 90% warganya menggantungkan hidup sebagai petani. Lahan mereka menghasilkan durian, vanili, kemukus, gula aren dan cengkeh. Warga khawatir jika lahan mereka digali, mata pencahariannya akan hilang.  

"Tanpa adanya tambang pun, warga sudah sejahtera. Kalau ada tambang kami khawatir kehilangan mata pencaharian dan rusaknya ekosistem alam," ujar Ilzan (22) tokoh pemuda Wadas yang ikut mendampingi selama wawancara. 

Sedangkan Moh Suud (35) Ketua RT 3, RW 1 mengatakan, "Intinya dari awal kami tidak pernah menolak bendungan. Tolong jangan sampai dipelintir seperti aksi kami di Semarang, media menulis kami menolak bendungan. Yang kami tolak adalah penetapan desa kami sebagai lokasi pengambilan material (batu)," .

Diceritakan oleh Uud (panggilan Moh Suud), sosialisasi telah dilakukan sebanyak empat kali. Sosialisasi pertama tanggal 27 Maret 2018 lalu, karena dirasa tidak sepakat, warga membuat surat penolakan pada tanggal 19 April 2018 yang dikirimkan  BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Serayu Opak dilampiri KTP 500 orang.
Namun sayang, surat penolakan tersebut tidak disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.  Bahkan BBWS kembali melakukan kegiatan konsultasi publik (26/4) bertempat di Balai Desa Wadas. 

"Pertengahan tahun 2018 lalu kami sudah mengajukan PTSL ke BPN Purworejo, namun hingga kini belum ada respon," kata Uud lagi.

Berbagai isu muncul terkait pengambilan quarry di Desa Wadas. Salah satunya adalah isu kandungan emas di Bukit Wadas. Uud menjelaskan, sejak dulu desanya sudah sering dilirik untuk pertambangan, tapi warga selalu menolak. 

BBWS melalui balasan  surat dengan nomor UM0111-Aq 3/105 tertanggal 24 April 2018 tentang penolakan pengambilan material hanya menerangkan bahwa quarry tidak mengganggu mata air yang ada. Lahan terdampak akan diganti sesuai dengan hasil penilaian tim independen (appraisal).

Dalam menghadapi kasus ini, warga Desa Wadas didampingi oleh LBH Yogyakarta. 

"Yang terdampak Quarry 7 dusun. Kaliancar 1, Kaliancar 2, Karang, Krajan, Winongsari, Kaligendol, Randuparang. Warga semua menolak. Tapi tiba-tiba muncul dokumen Amdal. Sedangkan warga merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses pembuatan dokumen amdal," jelas tokoh masyarakat Wadas, Taufik Hidayat (65). (Mas)

Tidak ada komentar