Breaking News

SAWUNGGALIH ART FESTIVAL, Teater Bahasa Tubuh Yang Berkelas : Catatan Sumanang Tirtasujana.


KORANPURWOREJO.COM -SAWUNGGALIH Art Festival (SAF)  yang mengambil tempat di Area Stasiun lama Purworejo. Atas prakarsa   Nungki Art Work. Yang digelar  dua hari berturut turut (Malam Minggu 8 - hingga 9 Des 2018).
Menjadi sebuah peristiwa budaya berkelas di Kota Purworejo sepanjang tahun 2018. 

Terlebih tak ada campur tangan soal pendanaan dari pihak pemda  ( Dinparbud Purworejo - Red  ). Artinya perhelatan tersebut murni dari kerja jaringan budaya yang saling intim-isasi ( saling menguatkan ).

Nungky Art Work telah bergerak sebagai networker ( jaringan kebudayaan ) antar kantong kebudayaan.  Dan   membuktikan bahwa event tersebut, menjadi sebuah repertoar yang  memiliki maghnet bagi kalangan seniman dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.

Malam pertama, diawali  sambutan Angko Setyarso Widodo dan  Bupati Purworejo Agus Badtian SE, MM, disambung  sebuah orasi  kebudayaan Sutanto Mendut.
Tanto menyambut baik atas Festival Sawunggalih Art. Bahkan Tanto berharap Stasiun lama bisa menjadi ruang yang moderat untuk berkegiatan budaya. Yang tidak terikat oleh kepentingan politik atau golongan.
Tanto mewakli komunitas lima gunung, sangat mendukung, bahkan bila perlu Stasiun Purworejo dijadikan ruang seni bagi publik yang plural lintas agama.
Stasioen Lama Purworejo
Disulap jadi Gedung pertunjukan
Ala teater arena yang moderat.
Tanto yang membawa penari Komunitas lima gunung,  mengawali dengan " Tari Soreng". Tari yang mengeksplore   gerak  dengan tumpuan utama pada kaki dan gerak tangan. Serta gerak tubuh yang patah patah. Merupakan simbol kegigihan, pantang menyerah, sebagaimana etos yang dimiliki masyarakat desa.

Kemudian disambung dengan eksplorasi gerak tubuh Nungki Nur Cahyani, dalam  Tembang Raras.
Tari bertajuk Tembang Raras tersebut, konon terimpirasi dari Tembang Raras yang ada dalam Serat Chentini. Dimana perempuan berani mengaktualisasikan diri dan terus belajar dalam  proses kehidupan.

Tidak hanya mahir dalam seni bercinta dan pelayanan terhada pasangan. Tetapi mahir juga dalam olah kanuragan, berpolitik, berperang dan juga dalam ekonomi. Bahkan pengembara , yang mematahkan, bahwa perempuan sebagai konco wingking. 

Penampilan Nungki, yang telah keliling dunia bersama Sardono W Kusumo benar benar menghipnotis para pengunjung yang hadir. Terkesima dan haru.
Selain Nungki, disambung dengan penampil  Lena Guslina dari Bandung. Lulusan STSI ini menyajikan tari Gemuruh Sunyi dengan eksplorasi bunyi bunyi.

Juga tampil Widya Ayu Kusumawardani dari Purbalingga. Lulusan ISI Surakarta, yang mendapat indtruktur ITS Meksiko th 2016 ini menyajikan Hujan di Bulan Juni.
Deny Dumbo, in action
Bermain tetabuhan bunyi.
Serta penampilan Deny Dumbo Yudha Kusuma. Yang memainkan seni bunyi ala Drumer.  Deny mengeksplorasi bunyi, bereksperimen bunyi bunyi, yang menggabungkan bunyi bunyian alat modern dan tradisi.

Kemudian disambung pementasan Leonardo Diego Olivera dari Brasil.
Dimana kesemuanya rata rata perfom  25 - 30 menit, dengan bahasa tubuh. Malam pertama SAF seolah menyimpulkan sebagai Teater bahasa gerak tubuh, ada gerak gerak yang seolah mengutuhkan hidup, juga bahasa gerak dan kostum  yang satire. ( S. Tirtasujana )***

Tidak ada komentar