Breaking News

Sanggar Tari Prigel Konsisten Tularkan Seni Tradisi Pada Generasi Muda.


Suasana peserta ujian tari Sanggar Tari Prigel
di Gedung kesenian Purworejo.

PURWOREJO (KORANPURWOREJO.COM)--- MENYAJIKAN 16 jenis tarian, 211 anak yang terbagi dalam 22 kelompok, sejak siang hingga petang mereka bergantian ikuti ujian tari di Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo Purworejo Rabu (12/12).

Ujian merupakan kegiatan rutin tahunan Sanggar Tari Prigel untuk mengetahui tingkat penguasaan dan keberhasilan anak didik dalam menempuh pelatihan selama satu tahun. Selain itu, ujian yang dikonsep pagelaran tersebut sekaligus menjadi media hiburan dan apresiasi bagi pecinta tari Purworejo.

“Pagelaran ini memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi dan berapresiasi. Melalui kesempatan ini orang tua juga dapat mengetahui pencapaian anaknya,” ungkap Melania Sinaring Putri SSn, pengelola Sanggar Tari Prigel.

Peserta dalam ujian terdiri atas beragam usia. Dimulai dari usia empat tahun hingga remaja yang sudah mahasiswa, atau bahkan sudah lulus. Terdapat belasan jenis tarian. Beberapa di antaranya yakni tari Gembira, Kelinci, Dolalak, Candik Ayu, Kupu-kupu, Yapong, Meong, Retno Pamudyo, Merak Subal, Roro Ngigel, Puspita, dan Pendet.

“Jenis tarian yang dipelajari di Prigel beragam jenis, baik klasik maupun kreasi. Setiap tahun tidak selalu sama. Namun, dari sekian jenis tarian, Dolalak kami utamakan karena menjadi ikon Purworejo,” ucapnya. 

Sejak didirikan oleh F Untariningsih SE. pada 20 Mei 1985. Saat ini Prigel memiliki sekitar 6 pelatih atau instruktur yang selalu setia melatih anak-anak. Dalam setiap tahunnya, rata-rata ada sekitar 200 siswa. Prinsip yang kami terapkan adalah asah asih dan asuh, jadi kami tidak sekadar melatih,” ungkapnya.

 Syafira Raipratisena Aswan, siswa kelas 4 SDN Kliwonan . Setelah menarikan Candik Ayu di panggung Ujian dan Pegelaran Sanggar Tari Prigel 2018, mengaku telah dua kali mengikuti ujian. Dari pengalamannya berlatih di sanggar sekitar 3 tahun terakhir, banyak manfaat diperoleh. Setidaknya rasa percaya diri menguat, pengetahuan tentang tari tradisionalnya meningkat.

“Saya sering tampil di acara-acara kampung dan sekolah, seperti tujuh belasan, jadi lebih percaya diri. Pokoknya senang bisa berguna bagi masyarakat dan membanggakan orang tua,” imbuhnya.

Kemampuan Syafira menari diakui membuat bangga sang ayah yang juga staf Pendim Kodim Purworejo, Sertu Warwanto, dan sang ibu, Mepri Astuti.  Bagi keduanya, menari merupakan salah satu media pembentuk karakter yang efektif bagi anak. 

“Senang, bangga, dan terharu lihat anak tampil,” ujar Mepri Astuti. (MAS TOP)

Tidak ada komentar