Breaking News

MENGENAL Asal Usul Nama Desa PituRuh di Kabupaten Purworejo.

Simbol ( ikon visual ) PituRuh menjadi
kebanggan warga, karya tinggalan mendiang Camat Mino Purwo Hadiatmodjo Th 1980.

 KORANPURWOREJO.COM--PITURUH Adalah wilayah Purworejo yang berada di wilayah paling barat, perbatasan dengan Kabupaten Kebumen. Ibu Kota kecamatan ini memiliki jumlah  49 Desa. Serta penting untuk diketahui, di wilayah Pituruh gudangnya anggota TNI dan Polri, banyak Perwira TNI dan Polri, bahkan beberapa Jendral yang berasal dari Pituruh. 

Pituruh menjadi sebuah desa, dan Ibukota kecamatan yang unik, serta serba menarik untuk diketahui. Sebagaimana ditulis Sastrawan Sumanang Tirtasujana di tahun 1990 , dan kini diarsip oleh  Pemerintah Desa Pituruh, disebutkan. 
Secara historis, maupun ditinjau dari Epistimologis, nama PituRuh berasal dari kehebatan (tokoh linuwih) di Tujuh pedukuhan dan Roh ( Leluhur) yang cikal bakal di desa tersebut. Yang mana  para linuwih cikal bakal tersebut  berada di tujuh pedukuhan.

Lambang / Icon 7Ruh di perbatasan
dengan Kecamatan Butuh, jadi tempat
Ajang selfi ( Foto barep ).

Roh linuwih di tujuh pedukuhan tersebut, diyakini oleh warga adalah kaum bangsawan dari Kerajaan Majapahit. 
Beliau diyakini sebagai para pengikut setia dari Raja Majapahit (Raden Damarwulan). Seperti diketahui, dalam budaya Jawa ada ungkapan “Ilang sirno kertaning bumi”, yang merujuk pada tahun 1400 M telah terjadi peristiwa besar yang menyebabkan satu kerajaan terbesar di Jawa (tepatnya di Jawa Timur) mengalami keruntuhan. Akhirnya Raden Damarwulan mengembara meninggalkan atau membebaskan diri dari gemerlap serta hiruk pikuk situasi kota raja (pusat pemerintahan) . Dengan disertai para pengikut setianya.  Tidak lain untuk mencari tempat yang sunyi sepi untuk menenangkan jiwa ( bathin ) guna mendekatkan diri kepada Sang Penguasa langit bumi dan seisinya ( Allah )

    Para tokoh pengikut raja tersebut diyakini warga Pituruh sebagai cikal bakal berdirinya nama desa Pituruh. Adapun Roh linuwih  leluhur tersebut terpencar di Tujuh Pedukuhan yang ada di desa Pituruh layaknya delapan penjuru mata angin. 

Oleh masyarakat Pituruh leluhurnya yang dimakamkan di tujuh pedukuhan tersebut , hingga kini ditempatkan sebagai sumber kekuatan spiritual. Para tokoh cikal bakal tersebut dalam sejarahnya memiliki karakteristik kelebihan masing-masing, yang saling melengkapi. 

Bukti sejarah serta prasasti dari para  tokoh tersebut, sampai sekarang terdapat makam dan petilasannya. Beliau masing-masing adalah : 
Makam Mbah Banyu di Dukuh Blending
Yang dikeramatkan oleh warga.
Dikunjungi peneliti dari Jogjakata.

Mbah Banyu
(Makam dan petilasannya ada di Dukuh Blending). Beliau diyakini piawai dalam kaitannya dengan dunia jagad air (yang berkaitan dengan masalah air, Mbah Banyu-lah yang dianggap penguasanya). Bahkan sampai sekarang, warga Dukuh Blending secara turun temurun, ahli untuk urusan yang berkait dengan dunia air.
Untuk menangkap ikan, untuk urusan menyelam di air, warga dukuh Blending adalah sangat disegani. Pun begitu juga jago dalam hal pertanian .

Mbah Dewi Sri
(Makam dan petilasannya ada di Dukuh Gamblok). Beliau diyakini sebagai Dewi Rejeki, orang Jawa dari kalangan petani menyebutnya sebagai Dewi Padi. Di Pedukuhan Gamblok, masyarakatnya  sebagian besar bahkan hingga kini, paling piawai bercocok tanam padi. Bahkan di Dukuh Gamblok secara geografis, sebagai daerah yang subur.  Hasil pertaniannya juga selalu baik.
Makam Mbah Siluman (Sakti) , sering di kunjungi
para aparatur TNI dan Polri yang ingin
ngalap berkah selamat, di medan tugas.

Mbah Siluman
(Makam dan petilasannya ada di Dukuh Sutogaten). Beliau diyakini dikenal sebagai salah satu tokoh leluhur di desa Pituruh yang memiliki kekuatan spiritual punya kesaktian bisa menghilang. Serta sangat sakti.
Menurut Sumanang Tirtasujana, di Makam Mbah Siluman, sering menjadi kunjungan para tentara yang akan ditugaskan di medan perang. Banyak pula para orang tua, yang memohonkan untuk anaknya yang dinas di TNI supaya selamat di medan tugas.

Mbah Pengrawit dan Mbah Jenggot
(Dua tokoh  ini makamnya berada di Dukuh Kulon). Beliau berdua diyakini sebagai leluhur yang sangat piawai dalam hal dunia seni dalam kancah yang plural beliau inilah seorang seniman atau budayawan.
Di pedukuhan tersebut, banyak yang memiliki kepiawaian dalam olah seni. Baik dalam olah seni tari ndolalak, pedalangan, musik  kroncong serta lainnya.
Ikon visual , simbul 7Ruh
Situasi terkini, semakin memberi
 keindahan tersendiri

Mbah Kuwat
(Makamnya berada di Dukuh Bantengan). Secara Eptimologis beliau diyakini memiliki aspirasi kekuatan fisik yang sangat sempurna.  Kuwat dan disegani. Kekuatan yang sempurna itu, dianalogikan kuwat seperti banteng. Beliau pada eranya, karena keperkasaannya, diyakini diposisikan sebagai jogoboyo. Maka daerah makam Mbak Kuwat berada, disebut sebagai Pedukuhan Bantengan.
Diwilayah Bantengan seperti disebutkan sastrawan Sumanang Tirtasujana, warganya postur tubuhnya sehat sehat perkasa. Bahkan karena punya kelebihan fisik yang baik, banyak yang jadi TNI dan Polri juga olah ragawan.

Mbah Mentosoro
(Makamnya berara di Dukuh Wetan atau Mentosaran). (dari Filologi dan Eptimologi berasal dari kata Meto ( bicara )  Soro ( susah)  . Beliau ini adalah figur tokoh yang kaya pengetahuan, luas penguasaan ilmu pengetahuannya.  Sehingga beliau inilah sebagai sumber nasihat bagi orang-orang yang sedang dirundung masalah (sengsoro). 

Mbah Mabean
(Makam dan petilasannya ada di Dukuh Wetan atau Mabean). Beliau diyakini sebagai tokoh ibu.  Karakter mBah Mabean , diyakini sebagai simbol dari seorang Ibu. Seorang  pengasuh yang bijak, penuh kasih sayang dan berbudi lembut. Ia juga seorang figur  pamomong yang berbudi bijak. Dialah figur ibu dari seluruh anak turunan warga Pituruh.
    Dari karakteristik tujuh (Pitu) Roh yang saling melengkapi itulah sangat diyakini oleh warga Pituruh, bahwa leluhurnya disamping sebagai jalmo linuwih selalu ditempatkan menjadi simbol Pengayom, Pelindung dan sekaligus sebagai Sang Pamomong Sejati.
    Dengan tujuh (Pitu) roh yang memiliki karakter dan kelebihan sendiri-sendiri serta tidak saling bertentangan namun justru menyatu itulah menjadikan kini dikenal sebagai desa Pituruh (Pituroh). Pada perkembangannya desa Pituruh memiliki kekuatan spiritual bagi 49 desa yang ada di sekitarnya yang pada perkembangannya telah menjadi ibukota Tumenggung-an di era Pemerintahan Bupati Tjokro Negoro I, dengan Tumenggung Djoyo Berbongso, dan kini telah menjadi Ibu Kota Kecamatan. 

Pada era (jaman kejayaan) para  leluhur tersebut, desa Pituruh selalu menjadi panutan dan memiliki daya pengaruh bagi desa-desa di sekitarnya.
Menjadi sumber kekuatan imajis dan spirit bagi 49 Desa yang ada di wilayah Kecamatan Pituruh.
Mino Purwo Hadiatmodjo (Alm)
Camat Pituruh th 1980
Penemu / penggagas lambang 7Ruh

Camat Pituruh kala itu  ( tahun 1980 -1985) Mino Purwo Hadiatmodjo (Alm),  dinilai Sumanang sebagai camat cerdas. Karena menangkap  diksi kata "PituRuh" dan disimbulkan icon ' 7Ruh' . Yang kini menjadi lambang bagi wilayah Kecamatan Pituruh. 
Mino Purwo Hadiatmodjo, sipenemu dan penggagas simbol tersebut pensiun 1997 sebagai Kepala Kesra Kabupaten Purworejo.  ( Barep Unggul Pribadi).

Tidak ada komentar