Breaking News

RENUNGAN BULAN BAHASA DAN NASIONALISME KITA OLEH SUMANANG TIRTASUJANA


Untuk memberi Ruang Publik Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan, seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu. Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.


   BAHASA  bagian penting dari sistem komonikasi. Juga bagian penting dari sistem kebudayaan.  Maka bisa ditarik kesimpulan, bahwa bahasa itu adalah nyawanya kebudayaan.  
     Bohong kebudayaan manusia akan ada jika tanpa bahasa.. Hal ini pun bisa dipahami, tak mungkin kebudayaan akan berkembang kencang, dengan meninggalkan fungsi peran bahasa.

     Apalagi bagi kebudayaan yang segmennya mengolah bahasa sebagai sebuah  pergulatan estetik. Sebagaimana susastra. Maka bahasa benar banar sebagai nyawanya.
    Sebab sastra sebagai bagian kebudayaan tidak bisa lepas dari sekian banyak aspek kehidupan lain. Seperti berkait dengan dunia kognisi, dunia afektif, serta motorik. Serta aspek lain yang menyangkut artifakteknik kebahasaan.
    
      Lalu, semua aspek yang mengabstraksi realita hidup termasuk dalam dunia kognisi, dan intuisi tersebut,  maka jadilah yang dimaksud ' yaitu pergumulannya ilmu dan seni '. Maka boleh kita anggap pergumulan keduanya itu ( ilmu dan seni yang menggunakan bahasa ) adalah  mirip saudara kembar siam.


PERAN
   Jika digali lebih dalam, peran bahasa menjadi penting. Tidak sekadar jadi bahasa sebagai alat  komonikasi ,  dan pengantar di sekolah belaka. Lebih dari itu bahasa juga menjadi simbol harga diri dari suatu 'Nation' sebuah bangsa.
   Bahasa  juga sebagai jati diri bangsa.  Sebagai alat pemersatu, yang membangun sugesti. Bahkan  diyakini, bahwa bahasa dapat dikatakan sebagai nyawa dari segala aspek kebudayaan suatu bangsa. Apalagi bangsa ini terdiri dari berbagai suku dan bahasa.

   Maka sesungguhnya sangat sulit, membayangkan konsep ke Indonesiaan, tanpa kehadiran dan peran bahasa persatuan Indonesia. Bahkan secara kunstruktif dan  rasional , peran dan tugas 'Bahasa Indonesia' untuk tugas kesatuan bangsa tidaklah ringan.
    Dapatlah dibayangkan, apakah  cukup dengan bahasa persatuan itulah,  nation kita bisa menjadi kencang ikatan kebangsaannya ? Tentu kita menjadi tahu, dan mengerti, banyak  aspek  yang menjadikan kekuatan kuntruksi berdirinya  bangsa.
    Pun Jika di renungkan, sebenarnya tidak ada didunia ini, satu bangsa pun yang seteril secara kesukuan, maupun kebahasaan. Hampir semua bangsa yang ada senyatanya plural dan majemuk.

   Oleh karenanya dapatlah kita renungkan kembali.  Betapa pentingnya  membangkitkan kembali tradisi nasionalisme ke Indonesia-an kita. Sudah tentu, bukan hanya melalui forum iskusi sastra belaka.  Meskipun ada anggapan sastra adalah penjaga kebudayaan. Dan kebudayaan adalah bentengnya peradaban suatu bangsa.
   Siapapun elemen bangsa ini, kini sudah semestinya  untuk merenung sejenak.  Betapa kini ada tanda gejala melemahnya jiwa patriotusme dan  nasionalisme. Bahkan  kini  nasionalisme keberbangsaan kita, sedang menjadi sorotan oleh banyak pihak
   Betapapun terjadi kejar mengejar kemajuan jaman dengan jatidiri kita sebagai bangsa. Sebagaimana perkembangan yang terjadi , dengan kurun waktu yang terus  bergeser. 
    Seperti lazimnya terjadi wabah gaya hidup, yang bergeser menjadi  hedonistik. 
    Pun perilaku perilakunya anak anak bangsa ini juga mengikuti bergeser.

    Seperti yang terjadi era sekarang ini, tampaknya bahasa nyaris hanya menjadi alat untuk pembangun nilai ekonomi.  Bahkan, sebagai  bagian alat untuk mencapai kekuasaan.
     Apabila dianalisis, kini segala ilmu hampir sudah diterapkan menjadi alat kepentingan ekonomi, maka ekses yang muncul, ekonomi telah menjerat manusia ke faham materialisme. 
     Manusia tidak lagi sekedar memanfaatkan ekonomi, tetapi justru kini seperti diperbudak oleh nafsu nafsu hedonis / materialistiknya. Sehingga perilaku pengejawantahan pribadi patriotik separti ditinggal oleh kepentingan ekonomi dan politik.

   Yang tidak bisa kita pungkiri, bahwasannya : Memetik, yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara berpuluh tahun lalu.  "Kita sadar atau tidak hampir setiap hari mengadopsi ilmu  budaya barat ". Termasuk teknologinya, padahal ilmu barat dicipta dari rahim rasional dan analitis. 
    Sementara rasionalitas dan analitis sejatinya adalah bukan cirikhas budaya kita
    Benar budaya kita mengenal rasional dan analitis. Tapi kita sebenarnya lebih ke mahluk intuitif " 
   Begitulah bedanya. Disitulah bahasa berperan menjadi nyawa dalam segala ihwal ilmu.  Serta implementasinya untuk mewarnai hidup ke-berbangsa-an kita . Untuk menuju budaya yang lebih terhormat dalam kontek hidup kebernegaraan kita.


BERGESER
    Ada anggapan nasionalisme kita dari waktu ke waktu mulai bergeser.  Ada sinyalemen rasa kesatuan dan keberbangsaan kita selalu diuji oleh keadaan pergumulan internalnya sendiri..
     Situasi kekinian yang mulai nampak. Mengutip pendapat Tri Suparyanto Mpd, Ada tanda menguatnya indikasi dis integrasi nasional, yang hampir menjadi perhatian seluruh anak bangsa.
      Sepertinya ada bagian kebangsaan kita yang terancam seperti  akan terbelah. Dengan munculnya isu isu sara, isu kekerasan, , serta intoleran yang seperti mengancam kehidupan berbangsa kita.

    Rasanya terasabelum lama, Bangsa ini melakukan ritual  kebangsaannya  dengan melakukan  Sumpah Pemuda  ( 28 Oktober 1928, rasan). Begitupun, rasanya baru kemarin pula, bangsa ini merdeka.
> Tetapi sepertinya arti Nasionalisme kini benar benar bergeser,  jauh menyimpang dari implementasi  dalam sendi kehidupan kita secara pribadi, maupun dalam kontek kebangsaan dan kebernegaraan.

    Saya menjadi sangat kawatir, jangan jangan nasionalisme hanya bakal menjadi teks - teks  dalam pengertian definisi definisi semata.
     Pergeseran Nasionalisme  ini,  ditengarai akibat pengaruh perkembangan ilmu, ekonomi, serta dinamika sosial politik yang cenderung mementingkan golongannya sendiri 
    Sehingga sangat mungkin semangat tegaknya patriotisme kebangsaan ini akan terongrong. Tergerus  oleh gejala jaman milenia.
   Padahal Nasionalisme , secara umum dikatakan, bahwa nasionalisme adalah suatu paham, bahwa kesetiaan tertinggi individu , kelompok ataupun suku, harus mengabdi, dan berbhakti,  pada idiologi  tumpah darah, negara kebangsaanya.
     Jadi nasionalusme  semestinya bukan untuk kepentingan golongan, bukan milik politikus, bukan  kepunyaan para intelektual.
     Nasionalisme yang bermasa depan  tentu lain dengan tempo dulu yang bersatu mengusir penjajah. 
     Nasionalisme bermasa depan sepertinya harus keluar dari pengertian picik dan sempit menuju ke pengertian yang luas. Yang implementasinya menjadi nyawa penghidup persatuan dan  kasatuan bangsa.  Bukan sebaliknya. ***


Sumanang Turtasujana.  Seorang penyair  dan  Essays
Diberikan untuk dialog Nasionalisme
Di pendopo Agung Tamansiswa Yogyakarta.


Tidak ada komentar