Breaking News

PUISI ATIKA SANDY




Untuk memberi Ruang Publik Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan, seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu. Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.

PUISI ATIKA SANDY

Puisi #1
Bukan Sekedar Petualangan

di atas pencabik jalan
Roda berputar tak kenal medan
Berlari kencang percaya kesempatan
Walau mesin tertawa membunuh dengan hinaan
Tetap mengayuh berpeluh meratap kekejaman

Pandangan terhalang asap kendaraan
Telinga tersumpal bising teriakan
Perut kembung terisi kencang angin malam
Tubuh sekarat, mengernyit sakit dan lebam

Dengusan mencekik kuat menyekat kerongkongan
Menatap semu ujung perjalanan
Bersahabat karib dengan badai dan hujan

Tak peduli tingginya tanjakan
Berputar menaklukkan adalah jalan
Walau dengan jatuh yang sadis dan keterlaluan
Aku siap beroda sampai ujung perjalanan
Bahkan membusuk bersama kegelapan
Hingga aku sampai jembatan tuhan dan kemenangan
Meski dengan mati atau menang dan kelelahan

Purworejo, November 2018

Puisi #2
Bukan Kolam Susu

Tak percaya ini kolam susu
yang terlihat di dasar pasir adalah surga
Tak percaya ini bisu
yang terdengar nyanyian ombak bernada

Tenggelam mengalir bak harmoni loncat
Hanyut terpelanting menatap semburat 
Mencengkeram tarian ombak yang sekarat
Tergulung tertelan begitu nikmat
Mantap berdalih menentukan hayat

Mata kabur merangkai pandang 
Tertangkap sekejap bulan dan gemintang
Mendayungkan kedua tangan 
Demi bertemu tulang mengakar nenek moyang
Daging, darah dan keringat menjadi rerimbun karang

Ombak berkejaran melukis bibir
Menyimpan meruah dalam desir
Aku tak percaya ini hanya kolam
Noktah nyata berseru tersedu
Kenyataan sebenarnya ini bukan Kolam Susu
Hanya surga milik Tuhanku

Purworejo, November 2018

Puisi#3
Kukira Telah Bebas

Sejarah menoreh kemerdekaan saat itu
Janji kebebasan ternyata palsu
Kapal hanya tergugu tak maju
Memaksa berlayar tak mampu berlabuh
Jangkar mengunci dalam enggan bertolak
Lalu apalah fungsi lautan

Jiwaku hendak lari berburu
Namun induk membelot di tanah airku
Apa harus bungkam dan membisu
Lalu bagaimana generasiku
Gemintang terpaku layu
Senasib dengan air mataku
Mimpi menerjang badai telah berlalu
Menyisakan wajah sendu di pojok sayu
Apa aku tak boleh merdeka seperti janji proklamasimu

Purworejo, 5 April 2018

Puisi#4
Pilihan

Sampan tua tak bertuan
Tergugu menangis tertohok sendirian 
Sepasang dayung menghilang
Terombang-ambing berdiam di pelabuhan
Sekelebat harap menatap nelayan
Namun ironi tak dipedulikan
Hanya mampu meringkuk tak bertujuan

Menjerit dan berdentum memberi isyarat
Namun waktu mencuat dan tertawa
Apa bisa waras di zaman yang edan
Cara berlayarpun kamu ketinggalan
Pinta menyerah berkecamuk dengan kematian
Sebuah tanya dan pilihan
Memilih mati atau bertahan pada zaman edan

Purworejo, November 2018

Puisi#5
Bukan Terlelap

Mimpi berlomba menyelam dalam
Berpunya sebab akibat pada dua alam
Mengisahkan hibuk yang terselesaikan
Membuka gairah mencipta aksara
Angin berdesau menyamankan lelap

Seolah aku berpendirian kolot
Bukan juga lawakan omong kosong
Denting pada waktu terekam jelas
Seolah menyeka sebagian hidup

Sekuntum mimpi ini membumbungkanku
Membuka pandang palung kalbu menderu
Melebar memaksa tuk semakin misteri
Aku yakin ini bukan seonggok khayal
Karena sembiluku hilang
Karena senduku terang
Tak bisa membanyol lagi
Mimpi ini bukan permainan gelap
Namun secercah cahaya dalam keterasingan

Aku bangun untuk menyeka buliran derita
Aku bangun untuk merubah takdir kecewa
Aku bangun untuk sadar rencana luar biasa
Aku bangun untuk menyatakan semua yang terbilang dusta
Aku hanya wanita pemimpi melampaui bintang
Ini bukan lelucon untuk kau tertawakan

Purworejo, November 2018

Puisi#6
Konon Sakit

Bukan rasa benci dengki
Hanya hati yang tersakiti 
Berdencit pelan dan tersembunyi
Tak terukur dasar samudra bahkan inti bumi
Karena aku kayu dihadapkan api sendiri
Kemana air itu
Konon banyak disini

Purworejo, 5 April 2018

Puisi#7
Kala Penghianatan

Definisi sendiri ini mematikan
Membunuhku perlahan
Kau ada dan tak ada hanya sayatan
Tak tahu akulah yang kesakitan
Kukira hatimu setan
Melukai dengan cabikan
Sudah terimakasih teman 
Tak perlu ada gandengan kemunafikan
Biarkan aku seperti dulu yang sendirian

Purworejo, 11 April 2018

Puisi#8
Bintang

Tempatmu teramat tinggi disana
Sinarnya menetap tak pernah sirna
Di bawah sini hidup teramat hina
Cita dan mimpi hendak ke angkasa seolah segurat tawa
membangun tembok pengaman perkasa 
Hanya untuk melindungi mereka dari sengsara
Namun pemimpinya bisa terbang dan bersanding dengan gemintang
Kalau cita merajut negeri dengan sempurna
Agar berkibar sang saka di seantero jagad raya bahkan luar angkasa

Purworejo, 10 April 2018

Biografi:
Karhomah Atika Sendy adalah seorang remaja berjuta mimpi yang lahir di Purworejo, 24 November 2000. Saat ini sedang menempuh pendidikan farmasi di SMK Bhakti Putra Bangsa Purworejo. Sendy, begitu orang akrab memanggilnya. Mengenal puisi sejak SMP secara otodidak kemudian di bangku SMK mulai mengikuti Lomba Baca Puisi, karya puisinya juga pernah diapresiasi oleh Satrio Herlambang yaitu direktur Radio Makkah yang juga seorang jurnalis dalam penggarapan video "dakwah dalam puisi".
Atika adalah alumnus peserta Workshop Nulis Puisi Dinparbud dan Sastra DKP Purworejo.

4 komentar:

  1. Bagus-bagus semua puisinya,besok besok kirim ke Manado dong 👍👍

    BalasHapus
  2. Gaga skali dpe puisi do' bakena skali hehe 😁

    BalasHapus
  3. Sukses terus ya Sendy.. �� hasil karya mu memuaskan..

    BalasHapus
  4. Untuk merangkai kalimat aja itu sbuah karunia.. Semangat sendy ��

    BalasHapus