Breaking News

Paguyuban 'Kebo Bodo' Peringati Usianya ke - Seperempat Abad



BANYUURIP ( KORANPURWOREJO.COM)--- HINGGA usianya yang mencapai seperempat abad, Paguyuban Seloso Kliwonan “Kebo Bodo” di Kelurahan Kledung Karangdalem Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Sejak terbentuk pada 23 November 1993 silam, Kebo Bodo konsisten menjalankan visi mulia, yakni merawat keberlanjutan budaya dan adat istiadat masyarakat. Sejumlah misi terus dijalankan meski sederhana. 

Antara lain dengan menjaga dan melestarikan penggunaan bahasa Jawa 
Pada 23 November 2018 kemarin, organisasi berlambang kerbau ini tepat berusia 25 tahun. Belasan warga yang menjadi anggota punya cara tersendiri dalam merayakannya. 

Sehari setelahnya, Sabtu (24/11) malam, mereka mengisi hari jadi dengan aksi sosial pemberian santunan anak yatim dan tali asih bagi warga sekitar yang berjumlah 25 orang. Dikemas dengan resepsi sederhana di halaman rumah salah satu anggota, Ahmada Muhsin, tidak ada hidangan istimewa. Hanya 25 tumpeng serta nasi kluban yang disajikan sebagai simbol hari jadi sekaligus untuk disantap bersama seratusan warga yang datang.

Acara berlangsung singkat, tetapi hikmat. Ada doa bersama dan tausiyah yang dipimpin ustad setempat. Tampak hadir sejumlah unsur pemerintah kelurahan, para ketua RW dan RT, serta tokoh masyarakat.

“Apa yang kita lakukan malam ini merupakan wujud syukur kepada Allah SWT karena Paguyuban Kebo Bodo dapat terus bertahan hingga 25 tahun,” kata Ketua Kebo Bodo, Retno Waluyo

“Setiap bulan kita juga menyisihkan dana sosial yang akan diberikan jika ada anggota sakit atau tertimpa musibah", jelasnya.

Dalam perkembangannya Kebo Bodo tidak hanya berpikir untuk kepentingan anggota, melainkan juga warga sekitar. Anggota diajak untuk mengejawantahkan filosofi yang tersirat di balik nama kebo (kerbau) mbodho (membodoh), yakni berupaya untuk menjadi manusia yang rendah hati, berani merasa bodoh, mau belajar, dan tidak merasa paling pintar. Nama Kebo Bodo yang mengangkat kearifan lokal juga mengajarkan sikap kesederhanaan dan kebermaknaan dalam bermasyarakat.

“Kita ingin meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Meski jumlah santunan tidak seberapa, tapi itu hasil iuran anggota yang dikumpulkan dalam pertemuan malam Seloso Kliwon tiap bulan. Juga bantuan Drs. Dulrokhim dan Bambang Sutrino, ungkap Retno Waluyo.

Eksistensi Kebo Bodo dinilai turut mendukung program pemerintah dalam sejumlah hal, khususnya pelestarian budaya gotong-royong dan penggunaan Bahasa Jawa. Nariyo, staf Kelurahan yang hadir mewakili Lurah malam itu berharap agar Kebo Bodo dapat terus konsisten dengan visi dan misinya.. (MAS TOP)

Tidak ada komentar