Breaking News

Mengenang Rumah Sang Jendral A Yani Di Desa Rendeng Gebang Purworejo.



GEBANG ( KORANPURWOREJO.COM )– RUMAH yang berada  di Desa Rendeng, Kecamatan Gebang tepatnya ditanah seluas satu hektar yang berada di RT 01/ RW 02 berdiri rumah peninggalan keluarga Wongsoredjo dan Murtini yang merupakan orang tua dari sang Jenderal yaitu Jenderal Achmad Yani.

Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922, tepatnya di Jenar kemudian Achmad Yani kecil dan keluarganya pindah ke rumah orangtuanya yang ada di desa Rendeng, dimana sawah dan perbukitan menjadi pemandangan indah dimasa kecilnya.

Namun tak lama keluarganya pindah ke Batavia, disanalah Yani memulai karirnya. Hal tersebut diceritakan kembali oleh Bambang Purnawanto (49) keponakan Jendral Achmad Yani yang tinggal dirumah peninggalan keluarga Wongsoredjo, Senin (1/10).

“Ini rumah peninggalan orang tua pak Yani, beliau masih kecil waktu pindah kesini (rumah di desa Rendeng), beliau anak pertama dari tiga bersaudara, pak Yani, Asmi dan ibu saya Asinah,” ujar Bambang Purnawanto, Senin (1/10). 

Rumah orangtua Achmad Yani ini dibangun sebelum masa Kemerdekaan sekitar tahun 1930. Meski dibangun sudah lebih dari 88 tahun silam, rumah ini masih berdiri kokoh. Beberapa kali renovasi termasuk renovasi pada tahun 1962-1963 oleh Jenderal Achmad Yani.

“Rumah ini dibangun sebelum kemerdekaan, ada beberapa kali perbaikan tapi perbaikan kecil seperti langit-langit sama pengecatan ulang tapi sebagian besar masih asli seperti jaman dulu. Kayu-kayu atapnya masih asli, jendela, pintu juga masih asli karena terbuat dari kayu jati pilihan,” ujar Bambang.

Didalam rumah dengan tiga kamar tersebut masih banyak barang peninggalan keluarga orangtua sang Jenderal, mulai dari foto Achmad Yani muda, foto keluarga, foto Achmad yani dengan isterinya yaitu Yayu Rulia Sutowiryo Achmad Yani bersama kedelapan anak mereka, lukisan Jenderal Soedirman yang merupakan idola dari Achmad Yani juga terpasang diruang tenggah hingga satu set meja makan kayu jati serta ranjang besi yang biasa digunakan untuk tidur sang Jenderal.

“Dulu semasa pak yani masih hidup kalau liburan putra-putrinya sering diajak kesini, sampai sekarang juga putra-putrinya masing sering kumpul keluarga disini, tapi tidak bareng-bareng karena kesibukan masing-masing,” ujar keponakan Achmad Yani.

Tak hanya keluarga yang masih sering berkunjung ke rumah tersebut, banyak dari pelajar hingga instansi-instansi datang untuk napak tilas kerumah yang pernah ditinggali sang Jenderal. Pihak keluarga juga mempersilahkan kepada siapapun untuk datang berkunjung belajar tentang sejarah perjalanan Achmad Yani.

Seperti Singgih Setiyawan (25) pria asal Solo yang mengidolakan sosok Achmad Yani. “Saya sengaja datang kesini karena saya mengidolakan Jenderal A Yani, sudah kesini empat kali, rutin setiap tanggal 1 Oktober, saya silahturahmi kesini, saya juga pernah ke rumah beliau yang di Jakarta yang dijadikan museum, menurut saya Jendral A Yani itu sosok yang pintar, loyal, saya sangat menaruh hormat pada beliau, saya juga membaca buku tentang beliau yang berjudul Anak Emas yang Terhempas,” ujar Singgih.

Dihalaman samping rumah orang tua Achmad Yani ada dua garasi dan sekolah dasar yang didirikan atas inisiatif Jenderal Achmad Yani. “Bangunan sekolah disamping rumah itu dulu dibangun oleh beliau, karena keprihatinan beliau jaman dulu disini belum ada sekolah tapi sayangnya belum sempat melihat sekolah yang beliau dirikan, beliau meninggal dunia tahun 1965,” terang Bambang.

Jenderal Achmad Yani yang merupakan komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat meninggal diusia 43 tahun pada tanggal 1 Oktober 1965 jenazahnya ditemukan bersama enam pahlawan revolusi lainnya di Lubang Buaya, Jakarta. ( Nan MAS )

Tidak ada komentar