Breaking News

SERING LUPUT DARI PERHATIAN, Jadi Penyebab Sawah 40 Hektar di Empat Desa Wilayah Pituruh, Jadi Rawa.


Foto:Teteg Scotbalk Desa Pepe Yang Tertutup, tanpa penjaga,
Menahan air sungai Kedunggupit Wetan

PITURUH ( KORANPURWOREJOCOM) -- SALAH Satu biang penyebab banjir 40 Ha sawah 4 Desa ( Sikambang, Pituruh, Ngampel dan Prigelan ) adalah  sistem pengelolaan teteg di Sungai Kedunggupit Wetan, yang selalu kurang  mendapat perhatian dari Upt Pengairan dan Kematren pengairan setempat.

Sebagaimana yang terjadi di teteg Desa Tunjung Tejo dan Desa Pepe. Yang nyaris ditutup untuk selamanya pada saat musim hujan  ( tidak mengenal buka tutup ).

 Dari pantauan Wartawan, semenjak awal hujan, uniknya teteg  justru mulai di tutup.
Di desa Tunjungtejo, Sungai juga diteteg balok,  anehnya pintu pengambilan tersiernya juga tampak tertutup.
Air menjadi tertahan meluap memenuhi badan sungai.
Padahal jika musim penghujan air di persawahan tersebut, bisa dinilai cukup untuk bercocok tanam.
Lalu untuk apa sungai tersebut di teteg. Sementara akibat teteg tersebut , di hulu ( Pituruh, Sikambang utara, Prigelan dan Ngampel ) menimbulkan banjir hingga 40 Ha sawah terendam.

Anehnya persoalan yang sudah hampir 30 tahun menjadi penyebab banjir di hulu, tidak pernah terurai dan selalu luput dari perhatian para pemangku jabatan di daerah tersebut.
Situasi Sawah Desa Prigelan  Ngampel dan Sikambang utara. Foto dok.

Menurut Sumanang Tirtasujana (58 th),   2 tahun yang lalu, 7 Kades (  Pepe, Tunjungtejo, Sekartejo, Pituruh, Sikambang, Prigelan dan Ngampel ) pernah menandatangani kesepatan. Namun tidak ada sinergitas dan integritas diantara mereka.

Padahal jika teteg di Timur jembatan  Pepe itu di buka 1- 2 Hari saja, maka sudah mempengaruhi  surutnya air. 
Jika musim penghujan, kebutuhan air di Desa Pepe dan Tunjungtejo ,  sudah cukup untuk bercocok tanam.
Tidak perlu menutup total , untuk ambil air dari Sungai Kedunggupit secara berlebihan, dengan cara menutup balok.
Teteg Desa Tunjung terlalu tinggi menahan air Sungai Kedunggupit. Akibatkan air pembuangan tertahan.

" Mungkin kedua desa tersebut terbiasa terlalu nyaman, jadi tidak pernah  berfikir dampak yang ditimbulkan  di hulu.
Atau Upt Pengairan perlu menempatkan petugasnya untuk mengoperasikan Pintu Scot Balok yang ada di Desa Pepe.
Ungkap Pak Sumanang

Kasuistik tersebut menunjukkan pejabat yang berkait dengan perihal pengelolaan air, tidak merasa malu. DPR di Dapil VI, pun nyaris tidur dan tutup mata tak ada perhatian sama sekali ", tandasnya.

Sarijo ( 54 th ) warga Ngampel, mengaku, sejak Tunjung tejo diteteg , sudah 29 tahun, sawahnya di Desa Ngampel jadi Rawa. Sekarang terus melebar kian meluas hingga sampai Timur SD Prigelan.
Anehnya pembuangan Sungai Kedunggupit wetan melalui Sungai Wawar Pepe, justru ditutup.
Saluran tersier yang tertutup


Lebih heran lagi, balokan pengambilan air di desa Tunjung Tejo, dipasang terlalu tinggi. Seperti hanya mementingkan kebutuhannya sendiri.
Sementara pintu pengambilan untuk  tersiernya saya Cek pada tertutup.

Sementara memantau perkantoran Upt Pengairan dan Kemantren di Desa Pituruh, ternyata kurang melakukan tindakan action lapangan.
 Saat hujan deras
Lokasi Selatan Koramil Pituruh. foto Dok.

Sumanang dan Sarijo, mengaku pernah melaporkannya, Ke Dinas Sempor, ke Probolo , ke BBWS Serayu Opak Jogjakarta ,  bahkan melaporkan lansung ke Gubernur Ganjar Pranowo.
Supaya Sungai Kedunggupit dikeruk serta pengelolaan teteg Pepe dan Tunjungtejo diatur semestinya.
Namun Sumanang menilai tindakannya lamban.

" Padahal sawah 40 Ha di empat desa tersebut yang kini terendam, dulu tahun 1985 an bisa panen normal.
Sekarang karena pembuangan air sungai, dengan teteg  yang kacau, berubah jadi rawa."
 Koramil Pituruh terkena dampak.
 Saat hujan deras dan banjir.Foto Dok

" Itu Alun alun, yang untuk upacara Siaga Bencana, jum'at ( 23/11) melibatkan banyak elemen. Itu jika hujan deras 1 hari.  Juga jadi area banjir. Apalagi jika Pintu pembuangan di Pepe ditutup. Banjir akan meluap sampai Koramil Pituruh" Tandas Pak Sumanang.
Hasil pantauan KoranPurworejo,  melihat fakta dilapangan, maka tidak cukup alasan,  jika persoalan penyebab banjir tersebut, terus berlarut hanya dibiarkan. Karena  Banjir juga merupakan bagian dari 7 daftar bencana.  ( Barep -ST).

Tidak ada komentar