Breaking News

Catatan Pentas “Tak Ada Riwayat” KTP Teater Tak Pernah Kehilangan Penonton



PURWOREJO ( KORANPURWOREJO.COM ) PERTUNJUKAN teater kerap menghadirkan sebuah lakon berat dan perlu perenungan untuk memahaminya. Namun, hal itu tidak membuat teater di Kabupaten Purworejo kehilangan penonton.

Komunitas Teater Purworejo (KTP) sebagai salah satu kelompok teater independen telah menunjukkannya. Puluhan naskah realis, surealis, hingga absurd sarat perenungan telah dipentaskan sejak 11 tahun lalu dan penontonnya selalu membludak.

Baiknya apresiasi masyarakat Purworejo antara lain juga terlihat dalam pementasan terakhir KTP saat mengangkat lakon Tak Ada Riwayat karya Iswadi Pratama di Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo, akhir pekan kemarin. Produksi pentas mandiri yang disutradarai oleh haryanto Djee itu mampu menghadirkan ratusan penonton dari berbagai kalangan.

“Selama ini apresiasi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, cukup bagus terhadap pertunjukan teater,” kata Wakil Ketua KTP Achmad Fajar Chalik yang juga menjadi koordinator pentas Tak Ada Riwayat, Jumat (2/11).

Menurut Fajar, pertunjukan teater memang kerap menghadirkan dialog serta adegan-adegan berat yang sulit dimaknai secara langsung. Karena itu, KTP selalu berupaya menyesuaikan dengan tingkatan penonton.

“Dalam setiap pementasan, konsep yang kita usung selalu berbeda. Tidak melulu naskah-naskah berat, kita juga sering menyajikan naskah ringan, segar, dan menghibur. Misalnya pada Pentas Seni dalam Daerah tahun 2017 lalu kita angkat tema rekreasi seni dan mengajak penonton lebih santai mengapresiasi,” sebutnya.

Untuk menjaga eksistensi KTP dan jalinan persahabatan dengan kelompok seni lain, KTP pun tidak menutup diri. Sejumlah kalangan terus digandeng, Seperti pada produksi Tak Ada Riwayat, KTP melibatkan antara lain mahasiswa Teater Surya Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo, serta para pelajar dari SMP Muhammadiyah Purworejo dan MTs N 2 Purworejo. KTP juga menggandeng kelompok seni lain, seperti Sanggar Tari Prigel dan Dewan Kesenian Purworejo. Kalangan organisasi pemuda pun dilibatkan, seperti Karang Taruna Patria Gama.

“Pada hari Sabtu tanggal 3 November malam besok, sebaliknya kita akan turut mendukung pementasan drama kontemporer berjudul Glonggong adaptasi novel Junaedi Setiyono yang digelar oleh DKP,” kata Fajar yang juga pengurus Komite Teater DKP.

Sementara itu itu, dalam catatan Purworejo Ekspres, saat diskusi usai pementasan Tak Ada Riwayat pekan lalu apresiasi terhadap banyaknya penonton teater juga disampaikan oleh sejumlah tokoh. Antara lain budayawan Soekoso DM dan sastrawan Sumanang Tirtasujana, sekaligus memberi pencerahan. Dimana drama  berjudul Tak Ada Riwayat, merupakan drama pergolakan jiwa manusia. Antara pikiran perasaan yang berdialog dengan batinnya sendiri. Juga menyoal dirinya sendiri. 

Tidak ketinggalan, Kepala Dinparbud Purworejo, Agung Wibowo AP, yang menunggui diskusi hingga usai bersama Kabid Kebudayaan Agung Pranoto, juga turut bersuara.

“Saya mengapresiasi karena gedung kesenian malam ini penuh penonton. Saya datang bahkan sudah tidak kebagian tempat dan harus menyaksikan dari atas,” ungkapnya. (top)

Tidak ada komentar