Breaking News

Suran, Sedekah Bumi di Atas Gunung Beji, Somongari. Sebagai Laku Tradisi Yang Unik.


KALIGESING ( KORANPURWOREJO.COM )--- TRADISI budaya leluhur yang menjadikan manusia  memaknai hidup lebih mendalam, bersama  alam semesta. Suran atau Sadranan yang digelar secara sakral oleh masyarakat Desa Somongari,   tepatnya Petilasan Eyang Purbonegoro di Dusun Beji, Dukuh Sijanur Rt 4 Rw 4,  Jumat Kliwon 12/10.

Suran di Desa Somongari ini sudah digelar sejak jaman dahulu, sejak jaman leluhur saya, kata Sugino (28) Warga Beji.
Dijelaskan oleh Sugino yang mendapat cerita dari nenek moyang, salah satunya adalah Mbah Atemo Sunarto Juru kunci Petilasan.

Dikatakan bahwa Suran atau Sadranan ini memaknai tentang sejarah perjuang jaman kerajaan Majapahit, yang dimana dahulu Eyang Purbonegoro salah satu punggawa kerajaan Majapahit yang pergi karena kerajaan Majapahit runtuh dalam peperangan. Kepergian Eyang Purbonegoro sampailah di Dusun Beji yang sebelumnya hanyalah hutan belantara, kata Sugino.

Sugino menjelaskan, seperti disebutkan sebelumnya, dusun Beji ini adalah hutan belantara, Pelarian Eyang Purbonegoro bersama dengan adik-adiknya bernama Loka Jaya, Truno Sentono, Singo Negoro.
"Mereka memberikan sejarah baru bagi Dusun Beji atau lebih Luasnya Desa Somongari, Mereka menjadi Leluhur Desa. Dalam sejarahnya, seusainya suasana peperangan Majapahit, Eyang Purbonegoro mengajak lagi adiknya untuk kembali ke kerajaan Majapahit," jelas Sugito. 

Dikatakan, adik Eyang Purbonegoro yang bernama Loka Jaya tidak ingin kembali ke Majapahit, ia ingin Trukoyoso atau Babat alas untuk membuat kehidupan baru di daerah Beji di Desa Somongari saat ini.

"Sebelumnya nama Beji sendiri berarti Sumur, dan itu ditemukan oleh Eyang Purbonegoro dan menjadi nama dusun Beji," kata Sugino.
Di sisi lain Mugianto PJ Lurah Somongari
Digelar selama 2 tahun sekali di Desa Somongari. Kegiatan ini adalah turun temurun bergantian dengan Festival Jolenan.

Pada Suran kali ini kita semua meminta doa kepada Tuhan agar di berika berkah dan keselamatan. Dikatakannya, Asok bulu bekti glondong pengarem arem, artinya semua masyarakat terlibat untuk melakukan sebuah kepercayaan tradisi  bersama, bahwa masyarakat sudah diberikan hasil bumi komplit,  

"Sudah di beri kita patut harus syukuri. Kepada nenek moyang kita yang trukoyoso,  kita mendoakan," katanya. 

ADA YANG UNIK

Ditambahnya, Uniknya disini  ada sesaji yang telah mentradisi. Yaitu memotong kambing.  Namun yang memasak daging kambing semua harus kaum laki-laki. Hal ini juga sudah dilakukan sejak jaman dahulu.
Diberitahukan bahwa, kenduri berada di 6 tempat lagi secara bersamaan di tiap Dusun yang ada di Somongari. Seperti  Padukuhan Sumber,  Dukuh Rejo,  Sijanur Beji, Sawahan, Krajan, Kedung Tilem. 

Sugianto berharap, perhatian pemerintah agara gelar budaya ini diperhatikan juga seperti Festival Jolenan yang sudah cukup diperhatikan, Setidaknya juga untuk pelestarian budaya kita. 

Setahu saya untuk kecamatan Kaligesing 21 Desa, salah satu Desa yang ada tradisi paling kental adalah Somongari,  Ungkap Sugiyanto. 
Heri Purwanto sebagai ketua karang taruna,  menambahkan ini adalah nilai budaya yang harus dilestarikan.  Untuk lebih dikenalkan keluar kota harus uri-uri budaya dari sejak sekarang. 

"Nantinya ini juga akan menjadi sajian wisata budaya lokal Somongari, Kita juga akan mencari kembali sumur Beji yang sudah tertimbun tanah karna longsor. Karna Beji sendiri sebagai inspirasi bagi masyarakat  Somongari luasnya Purworejo," Kata Hari.  (MAS)

Tidak ada komentar