Breaking News

Proses Kreatif Dua Sastrawan Purworejo, Diterbitkan Dalam Buku Oleh Balai Bahasa Jateng.


SEMARANG (KORANPURWOREJO.COM) ---DUA NAMA Sastrawan Purworejo masing masing Sumanang Tirtasujana dan Soekoso, DM mendapat apresiasi  DR. Tirto Suwondo dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kamis (25/10)  Buku berjudul  Menepis Sunyi Menyibak Batas, diluncurkan di Hotel Pandanaran oleh Balai Bahasa Jateng, bersama pemberian pemenang penghargaan Prasidatama.

Kedua nama tersebut dinilai  telah memberi konribusi turut memajukan dan menggairahkan iklim dunia sastra.  Serta dinilai konsisten tidak angin anginan di dunia pilihannya.
Soekoso DM, pria kelahiran tahun 1949 ini seorang pegiat Kopisisa Purworejo, keberartian  hidupnya untuk generasi muda dinilai sangat besar. 
Sastrawan Anghoro Suprapto M, Sumanang Tirtasujana, Gunoto Sapari, Soekoso DM ( foto Barep )

Disamping itu Soekoso  juga punya dedikasi tinggi, serta telah teruji karyanya dengan berbagai penghargaan atas karya puisi puisinya. Berbagai penghargaan puisinya, Ketika Lidah Jadi Pisau, penghargaan KSI 2001, Surat Kaleng Untuk Gubernur (1979). Nama Soekoso juga tercatat dalam buku Pintar Sastra Indonesia ( KOMPAS). Hingga kini masih terus aktif di dunia pilihannya, tak kendur sedikitpun. Dedikasinya terhadap dunia sastra pantas ditauladani di daerahnya, bahkan bagi generasi muda siapapun.
Bagi kalangan penulis puisi Sukoso di Jawa tengah sudah tidak asing lagi. Namanya juga tercatat dalam daftar jajaran penyair Nasional.

Sementara Sumanang Tirtasujana, juga dinilai atas dedikasi  pikiran pikiran Essay dan artikel tulisannya di berbagai media masa. Konsitensi menulis , dari gagasan daya  pikirannya, telah menempatkan Sumanang sebagai sastrawan pemikir. Gunoto Sapari bahkan menyebutnya, sebagai HB Yassinnya Purworejo. Karena Sumanang sering menulis dan meng-Endorse (menyebut dan  mengangkat) nama nama  pelaku sastra di daerah. Bahkan membedah karya -  karya mereka ke beberapa media massa. Bahkan Ia juga membedah Puisi puisi Sukoso, Diah Hadaning, serta Puisi Ahmadhun Yosi Herfanda.
Tulisannya tersebar di berbagai media seperti Jawa Post Suara Merdeka, Suara Karya, Swadesi Alm, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Solo Post, Minggu Pagi, Bernas, Wawasan, dlll. Dari tulisannya itu, pada Tahun 1995 diundang Pidato 50 seniman se-Indonesia. Bersama Jaya Suprana, Sujiwo Tejo,  dll.
Sastrawan Sukoso DM, Sumanang Tirtasujana, Triyanto Triwikromo  ( Foto Barep ).

 Selain itu ia bersama Dhorothea, Darmanto, Jayadi Kastari, Dibantu Kompas Gramedia menerbitkan Jurnal Kebudayaan KOLONG, juga sebagai Pendiri Cagar Seni Menoreh. Selain itu ia juga seorang penyair produktif Karya puisinya tersebar di berbagai media dan masuk dalam puluhan  Antologi Buku Puisi Nasional. Bahkan juga diterbitkan dalam 3 Bahasa  ( Inggris, Jerman Indonesia ) dalam The Anthologi Of Indonesian Modern Poetry ( Antologi Puisi Indonesia Modern ) EQUATOR. Sebagai literasi sastra bagi Univ Kuala Lumpur, Burnei, Australia yang membuka Jurusan sastra Indonesia.
 Namanya tercatat dalam Ensklopedia Sastrawan Indonesia, dan Bibliografi Sastrawan Indonesia. Editor Pamusuk Eneste Gramedia.
Pria Asli Pituruh Purworejo ini,  namanya justru dikenal di Jogjakarta, ia juga salah satu penggerak Forum Pengadilan Penyair Jogjakarta th 1988. Tak heran beliau tahun ini, juga  mendapat penghargaan Bhakti Negeri Bidang Kebudayaan dari Univ Kebangsaan  Tamansiwa Yogyakarta. Kualitas dunia pemikirannya  telah teruji dan dinilai memiliki arti bagi publik.

Pantaslah jika kedua sastrawan Purworejo ini, menjadi pilihan bagi Balai Bahasa Jateng, untuk digali bagaimana proses kreatifnya, dan bagaimana keberpihakannya terhadap sastra dan kehidupan manusia.

Kepada wartawan, Soekoso menjelaskan, Proses Kreatifnya, bersama Sumanang Tirtasujana,  yang diterbitkan Balai Bahasa, juga bersama dengan  Sastrawan Ahmad Tohari,  KH, Muhamad Bisri, Gunoto Sapari, Eko Tunas,  ES Wibowo, Sri Wintala Achmad, Bambang Sadono, Soesilo Toer, Proses Kreatif ini dibukukan, adalah bagian dari penghargaan pemerintah,  Sukoso juga mengajak generasi muda untuk lebih mencintai sastra,  ungkapnya.

Sementara Sumanang Tirtasujana ,mengatakan, 
 " Satra itu jangan dianggap hanya memberikan hiburan semata. Tapi didalamnya ada esensi dunia pikiran dan memperluas cakrawala. Ayo budayakan menulis, supaya abadi. Sebab jika hanya diomongkan hanya akan sirna sia sia"  ajaknya. (Barep Unggul Pribadi).

Tidak ada komentar