Breaking News

Ny Mulyati Pedagang Sayur, Tiga Anaknya Lulus Perguruan Tinggi.



PITURUH ( KORANPURWOREJO.COM) --- NAMANYA  Mudah diingat :  Mulyati (62 th)  warga Desa tersidilor  Pedukuhan Djaderman ini, setiap usai subuh ia harus berjalan  menuntun sepeda dan krombong tempat dagangannya menuju Pasar Pituruh, sejauh 4 KM.
Tidak sulit menjumpainya. Pukul  05.00 pagi ia pasti sudah bisa dijumpai di area pasar Pituruh, Kabupaten Purworejo, untuk mencari dagangan , berbagai  kebutuhan dapur para Ibu Rumah tangga.

Di pasar  Pituruh  setiap pukul,03.00 WIB  pagi para pedagang sayur sudah  bertransaksi. Disitulah Mulyati bergumul mencari berbagai dagangan. Setelah segala yang ia butuhkan terbeli, Mulyati lalu kembali berjalan kaki menuntun sepedanya, keliling menemui pelanggannya, menuju / melewati Desa Tunjungtejo, Dlisen Wetan, Tersidilor bahkan sampai Desa Tersidi Kidul. 

Setiap pagi Mulyati sedikitnya harus berjalan 11 KM, bahkan mungkin lebih. Kepada wartawan KoranPurworejo.Com Mulyati mengatakan,
 " Saya kalau diam tanpa aktifitas malah sakit semua badannya. Itung itung jadi penjual sayuran keliling, untuk olah raga. Kalau badan sehat, makan juga terasa enak. Lagipula hidup juga tidak betul kalau hanya berpangku tangan ", kata Mulyati.

KoranPurworejo memandang kiprah dan perjalanan hidup  Mulyati  bisa menjadi perempuan  yang menginspirasi.  Hidup dan tampilaannya sederhana.
 Tapi siapa sangka, janda mungil dari Almarhum Dwisiswanto ini, sejatinya telah jadi seorang pahlawan bagi ketiga anaknya jadi Sarjana.

Anak pertamanya  Muhamad Waslam Amir lulus pertambangan, kini bekerja di Freport Timika Papua.  Adiknya Suryadi (27 th ) juga seorang sarjana pertambangan lulusan UPN Jogjakarta. Bekerja pada kantor Freport Jakarta. Sedang kakak perempuannya Lailatul Farida ( Lala 29 th )   lulus  Bidan.  

" Anak anak saya sejak kecil saya didik untuk priatin nrimo dengan keadaan. Untuk tekun , tidak  hidup foya foya. Tidak semua permintaan yang mngeluarkan biaya tapi tidak penting, tidak  saya turuti. Soalnya saya tidak banyak uang." Tandas Mulyati.

Mulyati juga mengaku sering oleh anak anaknya disuruh jangan jualan sayuran lagi. Bahkan mengaku pernah dibawa ke Timika Papua, dengan maksud supaya dekat dengan cucunya dan tidak jualan lagi.
Namun Mulyati mengaku, meskipun seluruh kebutuhannya dicukupi, tapi malah jadi kurang sehat. Sering tidak enak badannya.

Saat ditanya apa kesannya di Timika, Mulyati  mengatakan.
"Timika itu jauh sekali, naik pesawat saja  sampai  terasa lelah, dan ganti pesawat kecil. Disana kopi satu gelas Rp 50 ribu. Cucu saya cukur rambut Rp 100 ribu. Ubi ketela yang di Pituruh Rp 3 ribu, di Timika seikat bisa Rp 40 ribu. Satu hari untuk kebutuhan keluarga bisa mengeluarkan sedikitnya Rp 400 ribu. 

" Saya dibuat enak tapi tidak kerasan. Sering meriang sakit. Minta pulang lagi ke Tersidilor, dari pada ngalamun jualan lagi. E... alhamdhulilah jualan lagi malah jadi sembuh dan sehat  " kata Mulyati.

Kepada KoranPurworejo, Mulyati menceritakan, suka dukanya jadi pedagang sayur keliling. Seluruh waktu hidupnya setelah menikah dengan suaminya Dwisiswanto ( Alm)  sejak anak masih kecil, seluruh waktunya hanya untuk berdagang sayuran.

Bahkan kepada KoranPurworejo, Mulyati mengaku sudah ganti sepeda sampai 4 kali. Ganti krombong juga berkali kali. 

" Saya mau dibelikan sepeda yang bagus, tapi saya tidak mau. Penjual sayuran ya tidak pantas kalau sepedanya baik. Begini saja sudah cukup " akunya lugu. ( SM.Tirta).

Tidak ada komentar