Breaking News

Cerita Mini Karya Buyono


Cerita Mini Karya Buyono

Untuk memberi Ruang Publik. Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan, seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu. Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.

CERITA MINI

G U  R  U
Karya Buyono


RUPANYA setelah setua  ini  aku baru  "ngeh".  Guru itu ternyata bukan hanya yang berdiri di kelas, yang mengajari kita membaca ,  menulis dan sebagainya itu. 
Siapa saja dia, apapun profesinya, tua muda kaya miskin, bisa menjadi " guru ". 
Bahkan alam pun bisa menjadi guru bagi aku, kamu, dan kita semua.

Contoh alam : Tong , jika kosong kita pukul nyaring bunyinya. Akumyakin, anda pun makfum yang aku maksud.

Contoh lain : Padi  , jika berisi, dia akan tunduk, untuk tunjuk tangan pun dia malu. Tapi jika padi yang selalu tunjuk tangan, tahulah kita, itu padi kosong. Tanpa isi. Atau padi yang selalu cari perhatian.

Nah ini akan aku sampaikan sebuah cerita  kisah nyata . Aku lupa tanggal kejadiannya, tapi ingat harinya. Jum' at  di sebuah siang yang becek oleh hujan, yang tak kunjung reda.

Sehabis Jum'atan.........
Mas Yon ..masih ingat saya..?  Sapa seseorang yang wajahnya keriput, rambut nyaris putih semua, seperti wajah  75 tahunan. 

Aku berpikir keras. Siapa dia? Tahu pula namaku? Tapi kok panggil aku mas/ abang?

Aku Surip mas....?! 
Astaga. Surip? Teman SR dulu? Yang  paling disayang guru ...karena setiap tahun tak naik kelas? 
Aku sudah klas 3 SMA Surip ini masih klas 2 SMP. Kudengar, malah SMP pun tak (jadi) tamat, pikirku.

*Hebat mas Bu Yon keren...pegawai Bank, di Medan ya.? Ktanya sambil memegangi dan mengguncang bahuku. 

Berapa anak ? Berapa  Cucu ?  Tanya Surip mengejar. Aku jawab jujur. Anak 3. Cucu 3.

"Waa..kalah sama aku. Aku anak 5 mas, cucu 4 " katanya sambil terkekeh. Bangga ? Tapi tidak kutengok cerminan rasa bangga itu, aku pikir itu memang tawa yang jujur. Dia memang menang. 

" ini lagi pas cuti po mas  Yon  ?*
"Bukan Rip, aku dah pensiun....." Jawabku.
" Ayo bareng mas Yon .. naik apa tadi ?
Tadi aku dibonceng tetangga sebelah, sahutku.

" Ayo bareng aku, sambil ngobrol...hehe.. katanya sambil merogoh kunci, dan...cuit..cuit...menuju sebuah Toyota yang berbunyi tadi.
 Astaga ? Batinku. Begitu nggak kusangka, Surip? Ber- Toyota?
"Hebat  kau Rip?" kataku jujur. Memuji

Lho .ltapi mas Yon dulu menasehatiku
"Ah mosok aku lupa...." aku jujur lagi. Memang sudah lupa......

"*Waktu istirahat main bola dulu? Aku kan kalah terus di sekolah...tiap tahun tinggal kelas. Mas Yon  bilang, sabar Rip, sekarang kau fokus pilih jalan hidup yang jelas, yang kau suka.

" Jadi aku pun tak lulus SMP mas, malu sekolah lagi. Aku ikut di bengkel cina , 4 tahun di bengkel aku mikir. Gajiku tiap Sabtu aku belikan kunci2 bengkel. Satu, satu, satu, setahun komplitlah kunci kunciku " Ungkap Surip lugas.

":Ya Alhamdulillah, setelah kunciku komplit aku kok jadi PD. Kalau minggu kan prei, aku mbetulin mobil teman2 yang datang dirumah mas.. Selanjutnya kok laris dan terkenal ..hehehe  Setelah makin PD aku ya keluar dari bengkel cina itu mas. Nah ini bengkelku mas,  katanya .

Surip  sambil menunjukkan bengkel yang cukup besar, berlantai 3 dan ada beberapa mobil bagus antri di depannya.

Di rumah, sehabis Jum'atan itu, aku merasa mendapat sebuah pelajaran kehidupan  dari Tuhan.
 Bahwa ternyata orang lain, juga bisa jadi  guru ,bagi aku, dan siapapun.

Surip menganggapku guru, kini Surip juga pantas aku jadikan guru. Guru kesabaran, guru ketekunan. Dan satu yang tidak boleh kita lupakan,   bahwa jatah rejeki itu tak pernah Tuhan keliru berikan.  

" Walau Surip tak lulus SMP ,  anaknya 3 jadi guru, S-1 semua, yang 2 masih kuliah di Jogja" 
Tampak terpampang di dinding ruang tamu, foto Surip dan istrinya, tampak gagah namun tetap sejuk,  dengan seorang mentri, Surip menunaikan ibadah haji .***

 Medan 12/10/18.

BIOGRAFI
Buyono , lahir di Purworejo, alumni SMA Negeri 1 Purworejo tahun1970 . Ia pernah kuliah di ASRI Jogjakarta. Pensiunan pegawai Kakanwil BRI Medan ini,  menulis puisi, cerpen dan cerkak.
Cerkaknya di muat di Majalah Jaya Baya, Panyebar Semangat, serta Djoko Lodang dan Koran Kedaulatan Rakyat. 
Juga tersebar di berbagai Koran Sumatra. Seperti Analisa Medan, Waspada dll.
Buyono juga sempat menjadi Redaktur Budaya Koran Puja Kusuma yang terbit di Medan. Dia juga salah seorang pembina para penulis muda di Taman Budaya Medan. Buku Cerpennya yang sudah terbit  adalah Takdhir ! Kini ia tinggal di Medan . Mengelola kebun sawit miliknya, juga puluhan ternak sapi. Dan terus menulis.***

Tidak ada komentar