Breaking News

Lawan Hama Tikus , Desa Tunjungtejo Budidayakan Burung Hantu.



PITURUH ( KORANPURWOREJO.COM) -- BUDIDAYA Burung hantu.  Jurus baru para petani Desa Tunjungtejo Kecamatan Pituruh Kab. Purworejo. Jurus unik dan kreatif ini , senyatanya bisa dikatakan cerdas. 
Suhariyono, Skom, Kepala desa Tunjungtejo saat ditemui wartawan Koran Purworejo.Com Sabtu  (8/9/2018 ) menjelaskan. Inisiasinya muncul dari para anggota kelompok tani di desanya. Pasalnya Desa Tunjungtejo yang dilintasi Sungai Kedung Gupit wetan, tanggul sungai yang lebar menjadi tempat bersarangnya tikus. 

Dengan banyaknya hama tikus, petani kuwalahan. Sementara Ular sebagai predator sudah jarang. Jadi masyarakat cukup kerepotan mengatasi hama tersebut

" Maka muncullah gagasan, budidaya burung hantu. Untuk menciptakan ekosistem, guna  memerangi tikus tikus tersebut." Kata Kades Suhariyono.

Masih menurut Suhariyono. Kini petani didesanya merasa nyaman. Hampir tidak ada tikus di persawahan seluas 60,11 Ha desa Tunjungtejo.
Untuk membuat rumah burung hantu yang mirip pagupon burung dara itu, pihak desa mengeluarkan dana Rp 15.500.000,- untuk membuat 12 titik lokasi dengan ketinggian 6 Meter, yang dipasang di persawahan. 

Setelah dipasang pagupon tersebut, para burung hantu yang semula di pohon kenari, dan kebetulan roboh jadi pindah di pagupon tersebut. Bahkan sudah beranak pinak.

Setelah dibudidayakan, ternyata tak sia sia. Dampak positif yang dihasilkan, dari budidaya tersebut, kini para petani di Desa Tunjungtejo menjadi aman, dan bebas  dari hama tikus. Bahkan di sebutkan Suhariyono, desa yang bersebelahan pun merasakan dampak positifnya.

"Para tikus mendengar suara burung hantu yang beterbangan hilir mudik dimalam hari, rupanya juga membuat ketakutan. Yang jelas setiap hari dibawah sarang pagupon selalu saja ada darah tikus  yang tercecer  sehabis dimangsa " ungkap 
Kades.

" Ini bukti bahwa setiap malam hari, burung hantu selalu berburu mangsanya " tambah Suhariyono.

Desa yang memiliki luas 106.11 Ha dan  60,11 Ha berupa persawahan ini, dan memiliki 5 Kelompok tani masing masing 1. Suka Tani, 2 Tani Makmur, 3 Ngudi Mulyo, 4 Soroting Seto dan 5 Tunjung Putih yang berada di 2 Pedukugan, kini terbebas dari hama tikus.

Ide cerdas budidaya burung hantu ini,  senyatanya pantas untuk dicontoh. Petani lebih diuntungkan. Dari pengamatan wartawan dari 49 desa yang ada di Wilayah Pituruh, Tunjungtejo adalah yang pertama ternak gurung hantu.

" Kita hanya membuatkan paguponnya ditengah sawah. Burung sudah cari makan sendiri " ungkap Kades Suhariyono.

Suhariyono, juga membuat larangan menembak burung di desanya. Selain itu juga membuat Perdes larangan menyetrum ikan . Karena semua itu dinilai merusak ekosistem. 

" Jangan coba coba melawan Perdes sebagaimana disebutkan dalam Perda, pasti akan kami bawa ke rahah hukum. Tandas Suhariyono.  ( s.tirta)

1 komentar:

  1. Luar biasa, mudah2an petani tanbah lebih maju dan pemuda desa selalu berinovasi terhadap pertanian.

    BalasHapus