Breaking News

PUISI HAZWAN ISKANDAR JAYA - YOGYAKARTA.

PUISI   HAZWAN ISKANDAR JAYA - YOGYAKARTA.

Untuk memberi Ruang Publik. Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan, seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu. Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.
Sajak Hazwan Iskandar Jaya
EPISODE RUMAH PENGASINGAN
#bungkarno  #ting

Waktu telah memintal sejarah
bersama sepeda tua, meja kerja, juga ranjang berkelambu sutera
kita jumpa pertama
tapi getar apakah yang tiba-tiba menyergap
: seluruh kenangan?

sumur tua belakang rumah
tempat kita membasuh luka-luka
merontokkan prahara
dan membakar gairah baru yang membuncah dalam dada

"Ada foto kita berdua di sana
dan senyum Bung Karno seolah merestui perjuangan dan cinta
pada tanah, air dan engkau"

aku memandang jauh ke depan
ada banyak harapan membentang
tapi orang-orang tak pernah bersabar
untuk mencapai hakikat kemuliaan

Waktu terus mengunyah gairah
cinta yang berkobar pada naskah
kisah yang ditulis ulang sang maha Sutradara

Bengkulu, 2017


Sajak Hazwan Iskandar Jaya
Sarung Besurek : Titipan Doa

inilah sarung besurek
tempat kita menganyam kehangatan
di setiap malam dingin selalu membeku
menyusup sampai sumsum tulang

kita berpelukan erat
saat kelambu telah ditangkupkan
: segalanya telah menjadi ladang
tempat kita menanam masa depan

inilah sarung besurek
tempat kita melepas segala pilu
bersama doa-doa dan mantra
berpacu berpadu
melontarkannya sampai di ujung sendu

kita berselimut kata
kita saling mendekap tanpa kata
kita mengarungi bahtera
sampai waktu berhenti mengembara

Yogyakarta-Bengkulu, November 2017



Sajak Hazwan Iskandar Jaya
Mawar Merah di Bulan November
#ultahfor3

siapakah yang menebar gerimis
di bulan November penuh kenangan manis?
sementara kupu-kupu berhamburan
memenuhi ruang dan waktumu

siapakah yang membawakan setangkai mawar merah?
yang dipetik dari ketenangan jiwa
diam-diam menyergapmu saban rindu
terselip di balik kelambu

ini November ke berapa, bisikmu
di antara lelah dalam kesunyian
yang mulai mencucup usia
sampai batas pengasingan

aduhai, wajah siapa yang melintas-lintas
di setiap tarikan nafas
tak jua menjauh dari taman jiwa
dimana bunga mawar merah
selalu ada untukmu
saban rindu menderu-deru...

Yogyakarta,  November 2017



Sajak Hazwan Iskandar Jaya
Suatu Malam diantara Dua Beringin Tua
#pencuripipi

apa yang kau pikirkan tentang masa depan?
saat malam merebahkan hasrat
untuk tiba di pangkuan rembulan

betapa lapang alun-alun selatan ini
betapa sempit hati untuk menggapaimu
maka kututup segala mata zahir ini
agar bisa sampai pada takdirmu

dan saat kau ikat mata batinku dengan kerelaan
akupun menyusuri jalan pulang
di antara dua beringin tua
menanti datangnya isyarat untuk tetap bersama malaikat kecilku

ialah yang memberiku kecupan pada pipi rembulan
saat kusadari bahwa cerita belumlah usai
kupejamkan mata ini kembali
agar menemu jejak pengembaraan
untuk kembali pulang
: pada tempayan menangkup saban kerinduan!

Alun-alun Kidul, 25 Oktober 2017



Sajak Hazwan Iskandar Jaya
Kereta Jogja-Solo

siapakah yang menuntun kita masuk ke dalam kereta saat ragu masih bergelayut di bibir waktu?

es krim yang meleleh di pangkuan itu apakah penanda bagi asa yang mulai merasuk dalam sukma dan melumurinya dengan cinta?

bergerbong-gerbong kenangan tertinggal pada masa silam kita pun taklukkan air mata yang kerap menggerimis dalam jiwa

wahai, peluit rindu gemakan pada dunia  bahwa asa tak selamanya mempurba

kau dan aku bersembunyi di balik pintu menanti saat datangnya kabar dari masinis renta menyerahkan segala pinta dan doa

ia telah menyelinapkan namamu di salah satu bilik kelambu : hatiku!
Jogja-Solo, 24 Oktober 2017
Sajak Hazwan Iskandar Jaya
peron*

telah berabad lalu saban musim berganti selalu ada yg datang dan pergi
kereta bergegas membawa berkilo-kilo kenangan ke masa silam dimana aku tak lagi menemu pilu
pun bayang-bayang mengajarkan kita untuk tetap sabar meski harapan kadang tak sesuai kenyataan
biarlah ratusan jejak langkah tertinggal di sini bersama mimpi yang lelah menemani
Jogja, Stasiun Tugu 8 Okt 2017


Hazwan Iskandar Jaya, lahir di Palembang (Tanjung Raja OKI), 27 Agustus 1969. Aktivis sosial kemasyarakatan yang mendirikan Yayasan Bhakti Bangsa Yogyakarta. Aktif menulis sejak masa SMA di Bandar Lampung. Terasah saat kuliah di Sarjanawiyata (Universitas) Tamansiswa dan bergabung di Kelompok Sastra Pendapa Tamansiswa.
Beberapa karya tulisan berupa puisi, cerpen, esai dan opini pernah dimuat di Harian Kompas, Media Indonesia, Republika, Terbit, Swadesi, Suara Karya, Suara Pembaruan (Jakarta), Mitra Desa (Bandung), Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Pusara, Eksponen (Yogyakarta), Solopos (Surakarta), Jawa Pos (Surabaya), serta Lampung Post dan Fajar Sumatera (Bandar Lampung). Beberapa karya masuk antologi bersama Momentum, Alif Lam Mim, Aku Ini, Begini-begini dan Begitu (Esai FKY 1997), Tamansari (FKY 1998), Embun Tajjali (FKY 2000), Lirik Lereng Merapi (FKY Sleman, 2000), Rumpun Bambu (Teater Sila Bantul, 1999).
Penulis Buku Kucing Gemuk dalam Karung : Membegal Demokrasi (Yayasan Bhakti Bangsa, 2017).
Tinggal di Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Handphone 0816 422 1324. atau email: hazwan_ij@yahoo.co.id .

Tidak ada komentar