Breaking News

DEMI HIDUP, SUTIYEM MEMULUNG DENGAN ANAK GADISNYA.


PURWOREJO ( Koranpurworejo.com) Nasib hidup tidak bisa diramal. Untung pun tiada terduga. Sebagaimana nasib Linda Parmasuri ( 15 ) Siswa SMP Muhamadiyah Purworejo Kls 9,   anak pasangan Sutarman ( 60) dan Sutiyem ( 59)  warga Desa Keseneng RW 04/ Rt O2.
Ia tertangkap kamera Wartawan KoranPurworejo.com saat membantu ibunya yang  jadi pemulung. Linda mengaku setiap pulang sekolah terus langsung mencari ibunya yang jadi pemulung, di satu titik kota yang sudah ditentukan sebelumnya. 
"Saya selalu janjian di Centra Kuliner Purworejo",  kata Sutiyem. 
" Dulu saya janjian ketemuan di depan Masjid, tapi saya pernah dimarahi Satpol PP, terus pindah di sini Pak " Tambah Sutiyem.
Kepada Wartawan Sutiyem mengaku beban hidupnya sangat berat. Sambil menitikkan air mata ia mengaku riwayat hidupnya sangat sedih. Semenjak anaknya meninggal secara beruntun, suaminya jadi sakit jiwa. Kerjanya merenung dan ngomong sendiri. 
Ia mengaku punya anak 6 , namun kini tinggal dua. Linda ( 15) SMP Muhamadiyah dan Prabowo (12) SD keseneng. Kakaknya meninggal karena sakit dan tak tertolong.
Seluruh beban hidupnya ditopang oleh Sutiyem sebagai pemulung. 

Masih menurut Sutiyem, "Untung anak saya Linda, meskipun sudah beranjak dewasa, tidak malu membantu. Mungkin dia  tahu dengan keadaan saya, juga kasian sama saya" tambah Sutiyem.
Linda dan ibunya memulung demi kelangsungan hidup (foto suta) 

Kepada wartawan, Linda mengaku kasian melihat hidup ibunya. Linda juga mengaku tidak merasa malu.  " Biarlah saya dan ibu memulung, yang penting saya tidak ngemis. Ini hidup saya, saya harus kuat menjalani ", akunya.
Saat ditanya, Apakah teman sekolahnya juga tahu kalo Linda nyambi jadi Pemulung ? " Sebagian juga sudah tahu, tapi mereka juga menganggap hal biasa. Tapi satu dua juga ada remaja  yang sinis, seolah saya disamakan seperti manusia hina ", ungkapnya.

Saat ditanya, apakah pernah mendapat bantuan dari desa atau pihak mana ? Sutiyem mengaku belum pernah menerima. Bahkan ia mengaku , setiap urusan uang berkait dengan sekolah Linda, ia mengaku selalu nunggak. 
" Ini saya juga belum mbayar uang Les Linda sebesar Rp 600.000,- . Tapi Alhamdhulilah Linda boleh mengikuti Ujian Klas 9 di SMP Muhamadiyah Purworejo." Ungkap Sutiyem.
" Saya kasihan sama Linda, tidak bernasib seperti kawan kawannya. Tapi saya bangga, Linda pronadinya kuat, saya salut, dia tidak malu punya ibu jadi pemulung. Malahan dia masih mengenakan seragam pun mau membatu ", tandas Sutiyem.

Saat disinggung penghasilan memulungnya. Sutiyem mengaku sehari rata rata antara Rp 15000, - Sampai Rp 20.000-. Karena setiap 3 hari sekali Sutiyem menjual ke pengepul, satu becak penuh  hanya mendapat Rp 50.000,-
" Uang Rp 50 ribu itu untuk hidup kami sekeluarga. Anak anak saya tidak mengenal sarapan pagi., dan tidak mengenal uang jajan " tandas Sutiyem.

"Biarlah kami menderita, semoga kelak anak anak punya masa depan dalam hidupnya. Saya sudah tidak punya harapan apa apa, kecuali hanya kepada anak anak saya, semoga tidak menemukan nasib seperti orang tuanya ", tandas Sutiyem terbata bata. ( SuTa).

Tidak ada komentar