Breaking News

ANWAR MUSADAD MEWAKILI WAJAH SENI LUKIS MASA KINI.


KORANPURWOREJO.COM --DALAM Beberapakali pertemuannya dengan saya, salah satu klausa ( Kalimat pendek) yang ia lontarkan, " Om..Dulu saya hidup di Desa Lubang Lor ". Ungkapnya. Lubang Lor adalah Sebuah Desa di Kecamatan Butuh Purworejo Bagian Barat perbatasan Kebumen.

Tulisan ini bukan ingin mengupas hal itu.  Tapi ada ketertarikan saya pada perihal karya karya dari seorang Anwar Musadad.  Yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan di Pondok Pesantren.  Ia mengaku menyerap ilmu dari seniornya,  Pelukis Nasirun.  Karyanya yang sealiran dengan Heri Dono dan Edy Hara itu, menawarkan idiom keunikan ornamentik tersendiri. 
Hampir setiap karyanya punya idiom penceritaan seperti prosa visual. 
Setelah Pameran Tunggalnya di Gelar di Taman Budaya Yogyakarta, Anwar seperti menjadi penggugah  bagi dunia senilukis pada umumnya. Bagi saya Anwar adalah mewakili Wajah Senilukis kita kini. 
Tak pelak Menteri Perhubungan RI,  Budi Karya Sumadi pun tertarik mengontrak beberapa lukisan Anwar di pajang di beberapa Bandara Internasional di tanah air. 
Hal itu dibarengi beberapa lukisan Anwar Musadad jadi perhatian dan diburu para kolektor.

Hotel Meotel Kebumen tempat pameran Tunggal Anwar ( foto dok ).

Bagi saya karyanya Unik, Nakal, Karikatural, Menghibur, serta demikian berani menggunakan warna warna yang kadang justru dihindari para pelukis. 
Hampir semua lukisan Anwar dimata saya selalu mengundang ( memancing berfikir ) imajinasi. Menjadi pemantik daya  berfikir. Menikmati karyanya,  saya bukan sekedar disuguhi keunikan yang indah semata. Anwar lebih dari itu.

Menikmati karya karya Anwar Musadad, saya jadi sepertti diajak diskusi intrapersonal ( diskusi antara diri saya dengan pribadi diri sendiri). Karena lukisan Anwar bagi saya adalah  kecerdasan perihal gagasan yang simultan dengan  idiom seni lukis kini.
Karena senyatanya melukis sama halnya melakukan pergulatan pertarungan kecerdasan diatas " Ring" kreatifitas antar seniman itu sendiri.
Dari fakta karyanya, saya menganggap, Anwar memang pantas mendapat tempat ( ruang ) untuk menjadi besar.

HAL ini oleh Suwarno Wisetrotomo  dikatakan, bahwa  setiap karya Anwar  dapat dilihat sebagai panel panel narasi peristiwa  dongeng atau legenda.
Karya  karya lukisan Anwar juga dapat dibaca sebagai rekaman peristiwa kehidupannya yang penuh tegangan dan berliku. Bahkan bisa dikatakan sebagai catatan harian visual . Juga bisa dilihat sebagai sebuah metode. Bagaimana Anwar bergerak dan  berfikir dengan seni lukis, bagaimana ia memaknai masa lalunya. Pada sisi lain karya karyanya dapat digunakan semacan jendela untuk melihat Anwar yang lalu, kini dan yang akan datang.
Anwar Musadad dan Sumanang Tirtasujana Penulis ( foto Barep ).

DALAM pertemuannya dengan saya, baik di Jogja maupun di rumah saya.  Anwar yang mengaku hampir seluruh waktunya hidup di pondok, rupanya pengaruh masa lalunya sangat kental. Dalam kacamata teori sosiologis, keberpihakan diri Anwar pada kehidupan sosialnya sangat kuat. Sehingga dimata saya lukisan Anwar seperti struktur narasi yang bercerita. Terserah kalian akan  mengawali membaca dari sisi mana. Dan mengakhiri di titik mana.
Lukisan Anwar Terpampang di Bandara ( foto dok) 

Pada sisi ini Suwarno Wisesrotomo, menyebut, bahwa karya karya Anwar Musadad akan terus bergerak menuju pada kesadaran artistik yang berbeda dengan karya karya sebelumnya. Tema tema legenda dan kehidupan sehari hari tetap menjadi inspirasi,  bercorak dekoratif dan ornamentik. Serta memiliki kesadaran ruang.

Kecerdasan karya karya Anwar Musadad sebagaimana dikatakan pelukis Nasirun.  Bahwa  , " Anwar Musadad dengan memahami kedalaman ilmu Islamnya, maka bisa melahirkan  karya yang khas  ' Moralis'. Dari sistem bahasa doktrin , menjadi sistem yang lunak. Agama memiliki bahasa dogmatis, sementara seni memiliki bahasa harmonis dan metaforis " demikian Ungkap Nasirun.
Anwar Musadad dan Pemilik Hotel Moutel Kebumen ( foto Dok ).

Tulisan ini, sebagai rasa  empati  dan  turut menguatkan  semangat penciptaan saudara Anwar Musadad. 
Dimata saya sudah sepantasnya saudara Anwar Musadad mendapat ruang yang lebih terbuka. 
Sebagaimana Kredonya " Yang tertulis dan terlukis akan abadi. Yang terucap akan sirna ".
Sebagai karya literasi Ia sadar bahwa penciptaan karya adalah enerji hidupnya, supaya tidak hilang diterjang jaman.
Pada momentum kali ini, Hanif Dhakiri ( Menteri Tenaga Kerja RI ) akan membuka pameran tunggalnya di Hotel Meotel , Jl. A Yani No 31 Kebumen.tgl 14  hingga 28 April 2018. 
Di Hotel Meotel , anda ditunggu, disuguhi prosa visual  lukisan Anwar. Salam Satu Jiwa ! (Sumanang Tirtasujana )

Tidak ada komentar