Breaking News

TIDAK MAU DIANGGAP HOAX, WARGA WERO, MEMBEBERKAN KELAKUAN MANTAN KADESNYA , KE-BALAI WARTAWAN


PURWOREJO (KoranPurworejo.com) SEKITAR 25 Warga Wero Kecamatan Ngombol. Minggu mendatangi Balai wartawan Purworejo, Minggu ( 25/3). Kejadian ini bisa dikata unik,  wartawan yang biasanya mencari berita, justru diberi berita oleh warga Desa Wero.
Kedatangannya di Balai wartawan, supaya  tidak dianggap Hoax.

Kedatangannya di Balai wartawan di koordinatori  Sugeng Pamuji, Harsono dan Trisno Saputra. Pada intinya Warga Wero tersebut  menyoal -Sumirin, mantan Kepala Desa Wero, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo.  Sumirin diduga kuat telah menyalahgunakan kewenangannya selama dirinya menjabat kades Wero periode 2011-2017.
Sekitar 25 warga Desa Wero membeberkan ketidakberesan desanya di Balai Wartawan ( foto SuTa).

Terungkapnya ulah Sumirin ini, karena dia telah mengalih sewakan tanah GG yang ada di wilayah Wero seluas kurang lebih 7-8 hektar, dari pengusaha buah naga ke pengusaha tambak udang pada tahun 2017, tanpa ada sosialisasi sama sekali.

Hal itu pernah dipertanyakan warga Wero, dalam acara musyawarah warga Wero, yang diselenggarakan di balai desa setempat, Sabtu (3/2). Dalam musyawarah yang dihadiri puluhan warga dan disaksikan unsur Muspika Ngombol ini, juga dihadirkan Patah, pengusaha tambak udang yang jadi titik persoalan.

"Dulu, waktu disewakan ke pengusaha buah naga, ada sosialisasi. Tapi waktu peralihan sewa itu, tanpa sosialisasi sama sekali. Tahu- tahu dijadikan tambak," ungkap Harsono, salah satu warga Wero.

Karena tidak transparan dalam hal tersebut, kata Harsono, Sumirin diduga kuat telah menerima uang ratusan juta dari pengusaha tambak tersebut, demi keuntungan pribadi. Dan dampak dari adanya tambak tersebut, warga dirugikan, karena tanaman padi mereka  banyak yang mati dan gagal panen.

Harsono, dan juga warga lainnya hanya meminta penjelasan dari mantan Kades Sumirin, terkait hal tersebut. Sayangnya, sang mantan kades tersebut tak hadir dalam acara tersebut, padahal sudah diundang, baik secara lisan maupun tertulis.

 Dalam keterangannya, pada kesempatan tersebut, Patah mengaku telah memberikan sejumlah uang pada Sumirin, terkait pengalihan tanah GG  yang kini dijadikan tambak tersebut, dengan nilai ratusan juta rupiah.
Laporan Ke KPK sudah mereka lakukan dibeberkan salah seorang pendamping ( foto Suta).

Ternyata, warga tak hanya mempertanyakan peralihan sewa tanah GG tersebut. Sumirin juga diduga kuat telah menyalahgunakan kewenangannya, terkait dana desa tahun 2015-2016, bantuan gubernur 2014-2015, PDRD 2012-2016, dan tanah bengkok eks sekdes 2012-2016. Karena selama dia menjabat kades, tak pernah melakukan sosialisasi, juga laporan pertanggungjawabannya kepada masyarakat, terkait dana-dana tersebut.

Warga lainnya, Pamuji, juga membenarkan hal tersebut. Bahkan, kata Pamuji, saat serah terima dari kades lama ke kades baru, Suyoto, pada 14 Desember 2017 lalu, Sumirin tidak hadir. Dia hanya menyerahkan cap dan motor dinas, tanpa menyerahkan laporan pertanggungjawaban keuangan selama dia menjabat.

"Kami hanya meminta pertanggungjawaban Sumirin selama dia menjabat Kades Wero," tandas Pamuji, mewakili para warga, dan ditanyakan oleh lainnya.
Persoalan ini, seperti dijelaskan Sugeng Pamuji, sudah dilapirkan ke KPK pada hari Kamis (22/3). Okeh KPK disarankan untuk mendistribusikan kasus ini ke Kejati Jateng .
Sementara itu, pihak Sumirin, pada KoranPurworejo.Com , pernah menyampaikan klarifikasi. Bahwa semua yang dituduhkan itu tidak benar. Bahkan, Sumirin siap  menuntut balik bagi mereka yang mencemarkan nama baiknya.( SuTa )

Tidak ada komentar