Breaking News

'TEMAN SEBENTUK CERMIN' Cerpen Esti Nuryani Kasam. GUNUNG KIDUL.



Untuk memberi Ruang  Publik. Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan,  seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu.Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.

TEMAN SEBENTUK CERMIN
Oleh: Esti Nuryani Kasam

 Wajah teman akrabnya; Ferdi, berkelindan dengan bayangan ibu; wajah teduh yang selalu menenangkan hatinya. Nasihat dan kekhawatirannya senantiasa tersedia untuk anak-anaknya, menuntun mereka untuk meniti di jalan lempang kehati-hatian. Hidup hanya sekali, jadilah peneduh untuk sebanyak mungkin umat manusia lain! Demikian ibunya senantiasa membekalinya nasihat itu. Di kali lain, ibunya akan meletup-letupkan emosi kekhawatiran dari ceruk hatinya ketika suami atau salah seorang anaknya berbicara atau berbuat yang tak umumnya orang lain menganggap wajar. Di kala ia masih remaja usia, emosi ibunya itu ditanggapinya dengan emosi juga. Tapi selalu, jika ibunya kemudian mendapati Si Anak meletupkan emosi juga, malahan ia merendahkan hati, merangkul jiwa anaknya kembali menemukan kesadaran nurani. Contohnya ketika ia bercerita mengenai musibah yang hampir merenggut nyawanya ketika mendaki Merapi, amarahnya terpancing saat ibunya menanggapi cerita tersebut dengan kemarahan seorang ibu yang tergenggam kekhawatiran mengarat. Ia mengoarkan amarah mendengar Sang Ibu menyalahkan keberaniannya menolong Sang Teman yang hampir terpeleset ke kawah. Di titik itulah ibunya malah diam dan mengelus bahunya. Ibu melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Apakah ibu salah kalau mendengar cerita ini saja serasa nyawa ibu hampir disambar petir? Begitulah kata-kata ibunya melantun lembut, membuat amarahnya mereda tiba-tiba dan menjatuhkan kepala ke pangkuan ibunya. 
Lalu terpampang sosok bapaknya, Si Pekerja sekaligus Pendoa yang ulet, bicaranya pelan dan hemat. Lelaki itu selalu siap menyodorkan lengan untuk istri dan anak-anaknya. Dalam ingatannya, bapaknya tersebut tak pernah terlihat malas. Sepanjang ia merasa mampu berfikir dan mengingat dengan baik; hidup bapaknya menjadi pengabdian panjang untuk keluarga dan tugas-tugasnya di kantor. Bicaranya tak banyak, tetapi waktunya untuk berdoa selalu demikian panjang dan hening. Kulit keningnya menebal hitam. Di matanya, bapaknya merupakan perpaduan antara siang dan malam; kegigihan kerja dan kedalaman mendoa.  
Orang ketiga cerminnya adalah eyang kakung; pertapa, penguntai mutiara hidup dari lembah terjal alam maya.  Eyang kakungnya sosok yang sederhana, suka belajar dan jiwanya tak pernah menua meski usia berkepala nyaris delapan. Di masa tuanya, ia habiskan waktunya untuk membaca kitab suci, buku-buku dan koran. Ia membuat kliping beberapa biografi orang bijak dunia dari kolom sosok dari koran mingguan juga. Di sore hari, bersama secangkir teh bening dan makanan kukus, ia mengisi buku teka-teki silang. Sesekali ia memanggil cucunya untuk ditanya. Tapi selalu saja kakek lebih berwawasan dalam merumuskan jawaban di kotak-kotak huruf buku TTS. Ia dulu seorang saudagar sukses yang mampu menggaji banyak karyawan. Karena hidupnya yang sederhana dan welas asihnya terhadap sesama itulah usahanya kian maju. Ternak sapi perahnya bertambah banyak, sawahnya kian meluas dan orang desa banyak yang bergantung hidup padanya. Kedermawanannya membuatnya tak sekedar dianggap seorang boss, tetapi juga seorang dewa penolong. Begitulah sejarah hidup kakek hingga kemudian semua anaknya bisa diantarkannya ke jenjang pendidikan tertinggi di zaman itu. Di masa tuanya, kakek menikmatinya dengan kebahagiaan seorang resi. Pembantu dan anak-cucu pembantunya di kampung ada saja yang datang berkunjung menghadiahinya berhambur ucapan terima kasih dan kisah-kisah kesuksesan hidup mereka berkat uluran tangan kakek. Ah, sungguh tak perlu ragu mempercayai bahwa bertanam kebaikan akan berbuah kebaikan.  
Seketika ini ingatan terhadap ibu kian dekat di hadapan wajahku. Di mata dan telingaku ibu menunjukkan ketajaman mata hati untukku. Belakangan kau akrab dengan anak pejabat tata kota itu. Pak Hardian, pemilik dua super market baru. Kabarnya pembangunannya menghabiskan miliaran rupiah. Belum lagi tiga swalayan kecil di dekat tempat tinggalnya. Anaknya kuliah bermobil. Orang-orang memperbincangkannya, belum lama membeli kafe di Jl.Sudirman. Sebagai pegawai negeri, dari mana uang demikian banyak ia dapat? Istri dan anaknya tak ada yang memiliki kepiawaian bisnis. Untuk perhatianmu, kamu harus tahu latar belakang keluarga temanmu. Sering seorang anak tidak lebih waspada dari orangtua. Naluriku mengatakan, kau harus waspada. Teman-teman perempuannya berpakaian seronok. Ibu menyimpan kekhawatiran terhadapmu jika berteman akrab dengan Ferdi.
Aku mendongakkan wajah ke arah ibu waktu itu. Kalimat demi kalimat aku cerna satu per satu di pikiranku. Ibu, aku bukan anak kecil lagi. Tolonglah jangan menurutkan kecurigaan terhadap Ferdi! Ia teman baikku.”
“Meski kamu sudah dewasa, aku ini ibumu. Itulah tugas ibumu terhadapmu. Sedang tugasmu, was-pa-da! Temanmu adalah cermin jalan hidupmu! Sekali kau salah teman, terjerumus, masih bisa meloncat ke luar sejauh itu dangkal. Tapi jika sangat dalam, bahkan orang tua pun tak bisa mengeluarkanmu! ibu mengelus kepalaku.
Uuuhhh... meski aku sudah mahasiswa akhir, aku merasa masih selalu diperlakukan seperti anak kecil, dinasihati yang itu-itu juga! Tapi kali ini masih lumayan, tidak seperti biasanya, diperbandingkan dengan teman-teman masjid sebayaku. Memang teman-teman aktivis masjid sebayaku itu berperilaku teladan, tapi bukankah anak seusiaku perlu juga pengalaman dan pengetahuan baru? Apalagi, di lingkungan pergaulanku yang baru, aku masih paling rajin ibadah. Menurutku, punya kelompok band, belajar sinematografi, dan menjadi profesional berkenaan dengan income, sungguh pengalaman membanggakan. Aku bekerja keras untuk itu dan mencoba menata jadwalku seketat mungkin agar terutama tugas-tugas kuliahku tidak ada yang tercecer. Tanpa sadar aku tersenyum bahagia. Sebentar lagi aku akan dapatkan uang itu untuk  membeli motor baru, sedangkan motor lamaku pemberian bapak akan kujual agar bapak punya uang tambahan untuk ganti mobil yang sering mogok. Tak lupa membelikan juicer yang kulihat di pameran kuliner bulan lalu untuk ibu. 
Sedangkan untuk Bibi Giyarti; pembantu setia kami yang sudah mejadi bagian keluarga inti, aku ingin membelikannya mukena baru, warna biru laut seperti keinginannya waktu ia mengagumi mukena kakak iparku. Bibi Giyarti sudah senja usia, suaminya sudah lama tiada, sedang satu-satunya anak lelakinya tak ada kabar beritanya sejak sepuluh tahun lalu pamit ke negara tetangga. Kepadaku ia melimpahkan kasih sayangnya. Kini kami punya pembantu lainnya untuk tak membiarkannya kelelahan. Bapak ibu memberinya banyak waktu untuknya uatnya  dan tak  dan  Dengan membelanjakan hasil keringat pertama untuk keluarga, kuharap mereka berbalik menganggapku mandiri dan dewasa hingga terutama ibu tak selalu mengkhawatirkanku. 
Tetapi ya, Tuhan, kenapa malam laknat itu terjadi? Inikah firasat ibu yang disampaikannya berupa peringatan untukku? Ibu seolah memiliki indera perasa yang sangat tajam untuk anak-anaknya. Ia bisa melihat sesuatu di hadapan kami itu gelap atau terang. Begitulah kata hati ibu berkenaan dengan pertemananku dengan Ferdi. Setutupnya kafe, dengan rayuannya yang perlahan sebagaimana pertemanan kami yang berjalan dekat secara pelan, meski setengah merajuk  memaksa, Ferdi mengajakku ke diskotek. Aku masih belum segampang itu untuk diajak mendatangi kafe yang gaduh oleh hingar bingar musik. Sejauh ini aku masih anggap tempat itu identik dengan kerugian. Apalagi, konon di kafe milik Ferdi yang baru itu sebelumnya kafe tempat penjualan alkohol ringan. Tetapi ringan atau berat, alkohol adalah alkohol. Keyakinan demikian menjadi bagian didikan Islamiku. Itulah kewajiban kami di samping sekolah formal, sebagai aturan keras dari orang tua ibu, keduanya pengasuh pesantren.  Sebelum menjadi mahasiswa, kami dijejali aturan, harus mengaji ilmu agama setiap sore. 
Tapi entahlah, untuk ketiga kalinya itu pun aku memenuhi ajakan Ferdi. Ah, apakah keyakinanku mulai gampang tumbang atas nama hubungan pertemanan? Tiba-tiba aku telah berada di ambang pintu kafe, membawakan tasnya, kendati seperti biasanya juga, aku tidak masuk ke dalam. Terlihat olehku, selalu saja Ferdi sekedar ingin berkomunikasi dengan teman yang biasanya juga adalah karyawannya atau mengurusi distribusi minuman dari kafe kakaknya tiap kali mengajakku ke situ. Tidak selang lama, Ferdi keluar membawakanku sekaleng minuman ringan, sudah dalam keadaan dibuka, tentu karena membuka kaleng minum tersebut butuh pengungkit khusus. Sambil berbicara terburu di hand phone, ia menempelkan minuman ke mulutku. Bahkan karena cepatnya ia berbicara, aku tidak ingat apa yang tengah ia perbincangkan di hand phone sebelumnya. 
Tiba-tiba saja ia sudah menatap wajahku lekat tapi secepat kilat. Kudengar ia berujar sangat serius. “Fauzi, aku ada kepentingan, tolonglah kamu tunggu di sini. Ini benar-benar mendesak. Aku balik segera.
Aku bahkan tak sempat tawar menawar dengannya. Setengha berteriak dan memegangi sesaat lengannya sebelum ia menjauh, aku berujar, Tasmu ini tidak kau bawa?
Ia menggeleng cepat. Setengah berlari ia melambaikan tangan tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Tak ada hitungan menit, mobil mewahnya telah menderu menerobos gerbang. Jantungku berdetak agak kencang melihat caranya memacu mobil kali ini seperti orang di arena balapan.  
Sempat sesaat kukuasai diriku sendiri, kutenangkan kekhawatiranku yang menggeliat bangun. Perlu sedikit waktu untuk kembali menyadari bahwa di tanganku kupegang sekaleng minuman. Sebagaimana di waktu-waktu sebelumnya juga, tanpa menaruh curiga apa pun, kuteguk minuman itu hinga tandas, dan melempar kalengnya ke tempat sampah. Tetapi ada rasa yang tak biasa setelah itu.  Kepergian Ferdi baru hitungan menit, perlahan ketaknyamanan  mencekam; kepalaku dilanda bebatuan berat menggelayut lalu menyebar perlahan merayap di tubuh. Seperti itu seingatku pernah kualami ketika tertidur di rumah Ferdi, hingga keesokan harinya. Keluargaku ketika itu bingung. Beberapa kali dering hand phone dari ibu dan bapak tak kuasa kujawab. Tetapi peristiwa itu hanayalah sekedar kekhilafan yang pantas kami maafkan. Sekian jam berikutnya Ferdi kemudian minta maaf  karena yang kuminum itu ternyata teh pembantunya yang sedang melakukan terapi tertentu dengan obat tidur dari dokter. Dan aku memakluminya, tanpa sebersit curiga. Keluargaku pun demikian. Apalagi pembantu Ferdi juga datang padaku meyakinkan keteledoran itu.  
Sekarang ini, dibalik jeruji ini barangkali menjadi titik awal kesadaranku. Bahwa delapan hari lalu itu, dalam keadaan setengah lunglai, aku dikejutkan oleh polisi yang berdatangan menodong, menggerayangi, menjambak, memborgolku, kemudian membawaku pergi. Aku bukan saja lunglai oleh minuman yang kutenggak, tetapi bahkan dengan kekuatan yang coba kubangkitkan susah payah, moment itu menyentakku serasa sengatan listrik tegangan tinggi di kepalau. Suara teriakan: -Pemeriksaan urin!- bersahutan. Setelah itu, kuketahui bahwa aku dihadapi beberapa polisi di ruang interogasi, dituduh sebagai pengedar narkoba. Sekian kali polisi menempeleng, menampar, menghujaniku pertanyaan, tetapi aku tetap bisu. Sungguh aku tak tahu menahu sedikit pun. Pikiranku terus saja kembali pada rasa tak biasa di teras diskotek, boleh jadi minuman pemberian Ferdi dibubuhi bubuk haram memabukkan? Dan mungkinkah isi tas yang kubawa juga jebakan? Aku bahkan tak sempat sedikit pun curiga, apalagi mencoba mencari tahu isi di dalamnya. Sudah selihai itukah ferdi memperdayaiku sebagai teman dekat? Konon, dalam bisnis illegal demikian, bahkan tak kenal teman dan pertetanggaan. Pendistribusian barang haram tersebut menggunakan kelicikan yang tak mudah terendus orang biasa dan aparat butuh bekerja sangat keras untuk menjebak pelakunya. Tapi bukankah Ferdi anak pejabat kaya? Lalu ke mana handphone, dompet, dan semua kartu identitasku? Ah, sudah pasti di tangan para polisi. Tiba-tiba kepala dan dadaku terhantam batu yang maha berat. Sakitnya tak tertahankan. Pukulan polisi di pelipisku pun tak kalah berat dengan kesakitan rasa mengingat orang-orang tercinta. Bagaimana jika keluargaku mendengar hal ini?
 ???????
Tuhaann...! Enyahkan kemarahan dalam penungguanku untuk memaknai arah skenario-Mu! Lalu kulantunkan 99 asmaul husna agar aku tak lupa, ada yang maha perancang skenario teradil yang harus kumengerti maksudnya, bukan skenario manusia yang penuh pamrih. Di atas jaketku aku berkhusyu. 
Saudara Alfauzi ada kunjungan! Polisi itu memberiku seutas keramahan.
Orang tua saya? Tergeragap, kusimpan keheranan, tidak biasanya polisi-polisi itu tersenyum manis selama hampir delapan hari ini aku di sini. 
Sebaiknya Anda kemasi barang-barang Anda. Mereka tak pedulikan keheranan dan pertanyaanku.
Aku melangkah bimbang dan kuperhatikan seorang di antaranya memunguti jaket dan sepatuku, juga alquran dan sebuah buku, keduanya pinjaman dari mushala penjara. Kubiarkan ingatanku kembali mengenang eyang kakung. Ia, sebagai mantan napol puluhan tahun penjara, senantiasa yakin bahwa salah dan benar dalam analogi manusia seringkali tak jelas, sebab mata pengetahuan manusia terbatas. Pada garis waktu yang tentu, Tuhan menjalankan skenarionya bahwa rezim yang memenjarakannya itu tumbang oleh kekuatan moral rakyat jelata yang selama itu hidup di bawah kedurhakaan pemimpinnya. Kebenaran senantiasa menemukan kemenangan. Tapi mampukah aku sebagaimana eyang?  
Itulah yang sering tidak kaudapat dalam ilmu duniawimu, Nak! Kecerdasan, kebodohan, nilai dan sertifikasi hanyalah siasat Tuhan mewarnai manusia. Seberapa tinggi indeks prestasi keumatanmu, itulah yang dicatat-Nya! Bekalnya sewaktu aku terpilih sebagai pengurus organisasi perguruan tinggi. 
Tapi dalam waktu kurang dari satu semester, tepatnya sejak mengenal Ferdi, nasihatnya mulai kuabaikan. Pikiranku terseret pada kenikmatan band, film, income. Mungkinkah Tuhan sedang mengukur iman dan ilmuku? 
Ketika kau dapatkan kesusahan, pun keberuntungan, lalu kau merasa sedang dapatkan peringatan, maka bersyukurlah, sebab Tuhan memberikan bonus disebabkan amal keumatan dalam hatimu. Untuk yang kesekian ia membekaliku.       
Silakan Pak Alfian! seorang polisi mengisyaratkan keramahan.
Aku menelan ludah, memejamkan mata, menarik nafas dalam, lalu kududuki kursi  yang diangsurkan seorang polisi. Ketiga polisi itu sejenak berbasa-basi, tak lagi sebagaimana sedang menghadapi seorang tahanan, dan menjauh perlahan. Tak bersama ibu? Ragu, kutatap mata bapak yang dijernihkan kesabaran. 
Tiga kali ibumu ke sini. Tapi kau ini tahanan kelas kakap yang tidak bisa sembarangan dijenguk orang, sekalipun itu orang tuamu.
Kutekan keseganan. Percaya atau tidak, sekarang saya di sini. Menyadarkan saya, agaknya naluri ibu beralasan. Saya tak tahu bagaimana membuktikan bahwa Ferdi telah mengatur semuanya, menjebak saya. Bolehkah saya minta didoakan agar Tuhan segera tunjukkan kebenaran? Airmataku titik, segumpal penyumbat bocor, merambat pelan ke tenggorokkan.
Bapak menahan sebelah tanganku yang hendak mengusapnya.
Barangkali saya harus indahkan bahwa Tuhan menghukum  kesombongan saya terhadap-Nya, ibu, dan terhadap teman-teman masjid. Jika Bapak ingatkanku terhadap pergaulanku, boleh jadi aku pun mengerutuk bapak dalam hati. Aku henti, memberi kesempatan bapak bicara.
Sedetik, semenit... tak ada tanda bapak akan bicara. Kuusap ingus dari kedua lubang hidungku. Kenapa bapak diam?
Baiklah, kau selesai kemukakan isi hatimu. Sekarang aku semakin yakin aku mengenalmu lebih baik dari yang kukira. Yakinlah, Tuhan menolongmu.    
Aku terlongo. Saya telah kecewakan keluarga, kampus, kampung kita.... Begitu banyak pihak kurusak kehormatannya. Bapak tidak sedikit pun marah?
Sejauh kita menggunakan hati terbening kita, kita akan selalu memiliki kehormatan. Tapi jika kita menurutkan nafsu, sia-sialah kita. Seorang eyang bisa menjadikan anak cucunya sampah, seorang bapak terhadap anak-anaknya, seorang teman membinasakan temannya yang lain dan seterusnya. Seorang Ferdi adalah korban kesia-siaan keluarganya. Bersyukurlah, kau menjadi bagian keluarga kita.
Aku berdoa agar mata hati Ferdi dibuka. Tapi kenapa keluarganya?
Bapak menggeleng. Tak ada kesempatan lagi. Mungkin Tuhan sedang menjadikan Ferdi cermin untuk keluarganya.
Bertambah lagi ketakmengertianku, semakin tajam pula kutatap matanya.
Dinas tata kota mengalami kebocoran keuangan yang parah dalam 6 tahun belakangn dan kami baru saja selesai mengaudit harta kekayaan Pak Hardian. Hitungan jam lagi kami melakukan penangkapan terhadapnya. Kakaknya pengedar narkoba sekaligus pelaku money laundring. Ferdi membantu pengedarannya atas backing  seorang oknum polisi. Berkat kejernihan hatimu, maka Tuhan segera tunjukkan kebenaran.
Maksud Bapak, ketidakbersalahan saya sudah terbukti?
Bersamaan dengan serangkaian pemeriksaan terhadapmu, polisi juga menggeledah kafe tempatmu bekerja. Hasilnya, ratusan paket kaplet dan bubuk narkoba di kamar pribadi kakak Ferdi. Ferdi, kakaknya dan seorang iparnya ditangkap di rumah saudaranya. Selang sehari kemudian, seorang polisi rekanan mereka. Ia melawan, jadi terpaksa kakinya ditembak. Aku sendiri segera menemui Ferdi, mengelus dadanya. Kukatakan, -percaya atau tidak, bahkan dalam keadaan teraniaya sekalipun, anakku akan mendoakan kebaikanmu. Tetapi doa bukan senantiasa ucapan, itulah yang dilupakan kedua orangtuamu, Nak! Menafkahi anak dari sumber halal, mengajari kebersahajaan....Keserakahan menghambat kasih dan sayang orang tuamu. Jadi sungguh tak adil jika aku menyalahkanmu sepenuhnya. Juga Fauzi tidak sepenuhnya baik, kendati tetaplah anak yang tak mengabaikan Tuhannya, orangtua, sesama, dan penganiayaan terhadap orang demikian senantiasa mengakibatkan kebinasaan. Maka dengan rendah hati, berbicaralah jujur kepada pihak berwajib. Jika dia bersalah, seberapa besar kesalahannya, dan jika tidak, mengapa dia harus menanggung kepemilikan tas yang kautitipkan? Duniamu belum kiamat. Anggaplah aku bapakmu! Bayangkan bahwa sejak kau kecil, aku terbiasa usapkan tangan ke dadamu, menanamkan keyakinan tentang Tuhan, kemanusiaan, hidup dan ajal. Tolonglah, Nak!
Ia kemudian terisak dan memohon ampun. Ia minta dipanggilkan beberapa polisi, bersaksi  mengenai kebenaran. Mulai saat itu kau bebas. Dan dia katakan, -tak apa Fauzi tak memaafkan, apalagi mengunjungi saya. Tapi mohonkan, agar ia tak mengenangku sepenuhnya sebagai penjerumus sebagaimana Bapak katakan tak sepenuhnya kesalahanku kubangun sendirian-. Aku kemudian meninggalkannya, tetapi begitu membuka pintu mobil, terdengar letusan senjata api, jeritan, dan kami berlarian ke ruang itu lagi. Lima tubuh tewas. Hanya kakaknya selamat, shock berat. Konon, seorang polisi aiptu, agaknya merasa sudah pasti tak bisa lolos dari kasus tersebut,  tiba-tiba datang memberondongkan peluru. Sebuah tragedi keserakahan!  bapak mengakhiri. 
Aku termangu, benaku seolah penuh sesak.
Sudahlah kita pulang saja, bapak menarik tanganku, membawaku ke kantor adminisrasi dan aku menandatangani beberapa berkas. Jam 23 malam itu beberapa polisi dan petugas penjara mengantar kami sampai pintu gerbang.      
Aku menghidupkan hand phone. Ibu sedang menunggu kita?
Mereka tidak tahu kalau malam ini kau bebas tanpa syarat. Aku kasih tahu ibu kalau lembur. Anggap sajalah kita sedang buat kejutan. Dan mengenai Ferdi, kudapat sms terakhir ini, mayatnya segera dibawa keluarganya pulang, dikebumikan dini hari ini demi menghindari wartawan. Jadi setiba di rumah, kita ajak ibu melayat. Dan jika nanti rumahnya banyak polisi, mungkin bukan semata tragedi ini, tapi penangkapan Pak Hardian sudah dilakukan.
Kutangkap kilasan-kilasan wajah Ferdi menari di ujung imajinasi. Dan tiba-tiba slek!, slek!, sleeekkk...! Mobil memberi isyarat mogok. 
Rewel lagi! gumam bapak ringan. Masa kau tidak hafal juga dengan tabiat gerobak kita ini! akhirnya ia mengusik kegamanganku.
Sembari melangkah keluar, kuperhatikan wajah dan tingkah bapak.-Orang tua yang matang-, batinku untuk yang kesekian kali. Dan mobil yang sering mogok ini, tak menyurutkan kedermawanan sekaligus kejujurannya sebagai seorang pejabat jampidsus di pengadilan negeri kota kami. 
Seperti biasa, bapak meneriakkan aba-aba, Satu, dua, ti...!  Mobil itu melaju dan bapak melambaikan tangan.
Aku lari terseok. Bapak curang! Bapak curaaangngng!...Sengalku menahan tawa geli. ***11/01/2008 

Tentang Penulis:
ESTI NURYANI KASAM
Lahir pada 13 Pebruari 1977 di Gunungkidul. Menyelesaikan SD-SMA sejak 1983-1995, tetap di Gunungkkidul. Semasa SMP hingga SMA, memenangkan berbagai lomba tulisan ilmiah dari tingkat kabupaten hingga nasional. Puisi dan artikelnya telah dimuat sejak semasa SMP. Demi memperkaya pengetahuan sastranya, tahun 2006 memasuki Fakultas Ilmu Budaya, UTY, lulus tahun 2011.
Hasil tulisannya berupa artikel, puisi, cerpen, essai dan naskah dramanya telah terpublikasi dalam media lokal, nasional maupun regional. Antara lain di HU REPUBLIKA, SKH KEDAULATAN RAKYAT, SKH SURABAYA POST, SKH BERNAS, TM MINGGU PAGI, Majalah Sastra Pesantren FADILAH, majalah Islam SABILI, majalah SUARA MUHAMMADIYAH, jurnal sastra Asia Tenggara PANGSURA, dan lain sebagainya. Menjadi juri dan tutor di berbagai ajang lomba kepenulisan kreatif, essay dan pidato maupun menulis dalam Bahasa Inggris. Menjadi pemakalah di berbagai pelatihan kepenulisan. 
Sejak tahun 2008 hingga saat ini, masih suntuk berproses di bidang sastra bersama siswa binaan di kelas ekstra sastra di SMP N I Karangmojo, SMP N I Ponjong, KOPISAJI; SMA N I Wonosari, SMP N I Wonosari, Bengkel Bahasa Yogyakarta dan beberapa bengkel sastra yang secara temporal mengundangnya berbagi. Selain telah menerbitkan keempat buku tunggalnya; Resepsi Kematian (2005), Orang Gila Dilarang Tertawa (2007, dan mengalami terbit ulang di penerbit berbeda 2014), Perempuan Berlipstik Kapur (2012), mendapat penghargaan dan pengukuhan sebagai sastrawan Yogya dari Yasayo (2012), lulus UGM tingkat master minat Sastra Inggris (2015) dan menerbitkan buku puisi Perjodohan Matahari (2015). Hingga maret tahun ini, buku kumpulan novelet dan kumpulan naskah drama telah siap diterbitkan. 
Selain itu, hingga tahun 2017, EsNuKa telah membersamai, membimbing dan mengeditori buku murid-muridnya untuk ke-11 kalinya dari 6 sekolah yang selama ini menjadi tempatnya berbagi.***

Tidak ada komentar