Breaking News

PUISI HELDA NAWATI BANJARMASIN

PUISI HELDA NAWATI  BANJARMASIN


Untuk memberi Ruang  Publik. Rubrik BUDAYA KoranPurworejo.Com menerima tulisan karya yang relevan,  seperti Puisi, Cerpen, Laporan Diskusi, Ulasan pentas dan sejenisnya. Akan dimuat disetiap hari Minggu.Rubrik ini digawangi Penyair dan Essays Sumanang Tirtasujana.



Suara dalam diam ku
***
Maaf,jika Engkau rindu pada diriku
Tapi aku tidak datang menemui-Mu di sholat wajib ku.
Maaf,jika Engkau ingin mendengar bisikan ku
Tapi aku tidak berbisik pada-Mu di dalam sujud ku.
Maaf,jika Engkau ingin melihat ku
Tapi aku tidak ada dihadapan-Mu di dalam dhuha ku.

Sungguh,aku sangat ingin hanya ‘berdua’ bersama-Mu
Ingin rasanya membacakan puisi-puisi cinta dari-Mu,
Ingin rasanya berbisik dengan syahdu ditelinga-Mu.

Namun belenggu jiwa membuat diriku
Enggan untuk mendatangi-Mu.
Tajamnya tatapan dengki membuat diriku
Ragu untuk melanjutkan langkah kecil ku.

Bolehkah aku bertanya pada-Mu,
Jika aku dapat berlari dan memanggil-Mu.
Apakah kau akan menyambutku
Dengan uluran tangan kekar-Mu ?

Barisan puisi senja
***
Ku temani senja hingga ia melambai pergi,
Sinar jingga merdeup lalu sorot gelap menyinari,
Ku ingin bertanya padanya,bolehkah tuk tak pernah pergi ?

Bukan,
Bukan kecewa jika ia pergi.
Hanya,ku takut akan Sang Mentari pagi.

Permadani-permadani jingga mulai terurai dilangit senja,
Seperkian detik, jangkrik-jangkrik bersahutan tanpa tapi.

Temaram dibawah rembulan, menampakkan diri layaknya sebuah miniatur dunia.
Hembusan angin perlahan beranjak dari peraduannya sembari mengajak dedaunan kuning menari,
Setelah kehilangan puing-puing senja,
Alam pun ikut menyuarakan kegelapan.

Pesta malam mulai berdendang.
Malam panjang menjadi saksi sebuah kemeriahan setelah senja.

Tak lama,hanya sebentar.
Semburat kuning mulai mengikis kemeriahan pesta malam.
Tergantikan perlahan oleh gagah nya singasana pagi.

Ayam pun ikut menyuarakan datangnya Sang Mentari.

Gadis hujan
***

Ia menyelinap keluar-masuk dari balik tirai dedaunan pohon,
Menyeringgai dari balik tudung hitamnya,

Bukan,
Ia tidak menyeringgai menakutiku.
Ia ingin mengajakku bermain hujan bersamanya.

Ia terobos dinginnya hujan,
Kedatangannya hanya diwaktu hujan..

Terdengar sanyup ranting basah berjalan dibelakang ku,
Jangkrik malam bersahutan merdu diantara senyap yang bersembus,
Panorama pantamorgana terlintas sekelebat dipelupuk mata.

Sebentar,
Ia kembali datang pada ku,
Berjalan perlahan menghampiri ku,
Dibawah rintik hujan dan kilauan sinar senja.

Satu rahasia,
Ia terlalu sedih untuk menunggu datangnya hujan,
Hujan lah yang membuat dirinya hidup.

Siapakah dia ?

Mungkin lucu.
Tapi ia tidak menyakitiku,ia teman baik ku.
Hanya beberapa kali bertemu,kami berteman layaknya kepompong.

Senja dan Hujan lah yang mempertemukan kami.
Perkenalkan,

Ia adalah Gadis Hujan.



Aurat Before Fashion
***

Wahai shalihah …

Manakah kain penutup rambut indah mu ?
Manakah rasa enggan mu yang terkadang melepaskannya ?
Manakah rasa malu ketika tidak memakainya ?

Sadarkah diri mu ?

Kau meninggalkan identitasmu sebagai seorang muslimah,
Kau tinggalkan suatu syariat hanya untuk dunia,
Kau kesampingkan aurat hanya untuk sebuah kata ‘fashion’.

Ketika dunia mampu membeli auratmu,
Sebuah kata fashion pun mampu menanggalkan hijabmu,

Kau pikir itu tidak apa-apa ?
Tapi tidak pada hukum akhirat!

Pernahkah untuk berpikir akan hal itu ?

Kain yang terkadang terbang disapu kilauan dunia,
Sepotong kain yang kau anggap biasa,

Tahukah diri mu ?

Sepotong kain itulah yang dapat membuatmu masuk ke dalam Surga,

Namun ,
Jika dirimu salah menempatkan fungsi sesungguhya..

Maka,

Sepotong kain itu juga dapat menyeret diri mu dan ayahmu ke Neraka.


Aku dan ketidakpahaman ku
***
Ia milik ku
Namun aku bukan milik nya
 Untuk apa ia meminta ku berbisik
Jika hanya aku yang memiliki telinga
Namun ,..
Baru ku tau bahwa ia hanya melihat bukan mendengar
Untuk apa ia meminta ku berlari
Jika hanya aku yang memiliki kaki
Namun ,…
Baru ku tau bahwa ia hanya merangkak bukan berlari
Untuk apa ia memanggil hujan
Jika hanya aku yang terkena basah
Namun ,…
Baru ku tau bahwa ia hanya mengisyaratkan bukan merasakan
Ku mohon ..
Bawa aku pergi dari sini dan buatkan sebelah sayap untukku



Penyair muda ini namanya Helda Nawati. Lahir di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, 31 Mei 1999. Helda adalah nama panggilannya. Ia  salah satu Mahasiswi Kampus Swasta di Banjarmasin. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP PGRI Banjarmasin. Pernah diberi work shop singkat Oleh Penyair Sumanang Tirtasujana  di Tepi sungai Barito.
Ia menulis puisi sejak SMP hingga SMA terus aktif menulus.
Sembari menulis puisi, juga beraktivitas Dakwah dan Organisasi kampus Juga memiliki hobby memanah. Motto hidupnya i"Selalu tersenyum dalam keadaan apapun".

Tidak ada komentar