Breaking News

PROF DR, PETER CAREY Sejarah Yang Tidak Ada Hubungannya Dengan Fakta. " Itu Abal Abal "


PURWOREJO ( Koranpurworejo.com) - Ditengah penyelenggaraan Acara Bedah Buku Sisi Lain Diponegoro  di Pendopo Kabupaten Purworejo  , Sabtu (3/3/18) dengan pembicara Profesor Doktor Peter Carey .  
Dalam keterangannya Prof Dr, Peter yang berkebangsaan Irlandia itu. Menjelaskan begitu detail Siapa Pangeran Diponegoro. Sampai Ia jelaskan , bahwa seorang peneliti adalah seorang yang bekerja profesional. Ia mengaku mendapatkan data data  dari pelacakannya di Belanda, serta arsip Nasional. Diakui ketika mengendus data di arsip nasional mengandung banyak tantangan, alot  dan ada  pikiran pikiran yang radikal. Berbeda dengan jaman Sekarang,
Sisi lain Diponegoro yang sempat terungkap di forum diantaranya, adalah ketegangan ketegangan Pangeran Diponegoro di dalam kraton. Ketegangan itu yang tidak terungkap di publik. Bahkan Diponegoro pernah tinggal di Pesantren. Jadi ini sisi lain , latar belakang kemarahan Diponegoro.

Dari bedah buku tersebut, lalu bersinggungan dengan hari jadi Purworejo. Maka muncullah polemik tentang  penetapan Hari Jadi Purworejo sampai saat ini masih menuai pro kontra sejumlah kalangan. Bahkan Polemik tersebut semakin meluas dan kian hangat di perbincangan kalangan masyarakat.


Peter menyebutkan, bahwa Tjokronegoro adalah anak jaman kala itu. Tjokronegoro tidak bisa dikatakan pengkhianat. Kala itu masih jaman Kerajaan. Belum memasuki jaman Republik. Sedang Diponegoro Putra Kerajaan yang berbeda.

Menanggapi hal itu, salah satu keturunan Pangeran Diponegoro generasi ke enam Hanindya Djaja, membantah isu adanya perpecahan yang terjadi antara keturunan Tjokronegoro dengan keturunan Diponegoro. Menurut Hanin, isu tersebut berasal dari masyarakat luar yang tidak pernah melihat fakta sebenarnya dalam keluarga keturunan tersebut.

Selama ini yang melihat seakan keturunan Diponegoro sama Tjokronegoro itu terpecah, sebenarnya itu hanya orang lain saja. Antara keluarga kita ndak ada masalah kok,” ungkap Hanin usai acara Diskusi Buku ‘Sisi Lain Diponegoro’ di Pendopo Kabupaten Purworejo, Sabtu (3/3/2018) siang.

Hanin pun menyebutkan bahwa pada generasi sebelum dirinya juga tidak pernah terjadi masalah. Bahkan menurut Hanin, jika dirunut dalam sejarah antara Diponegoro dan Tjokronegoro pun pernah bertemu dalam satu guru yang sama yaitu Kiyai Taptonjani (Taftazani). 

Sebenarnya dari awal eyang-eyang kita tidak ada masalah, Bahkan mereka satu guru. Kalau pernah dengar nama Kiyai Taptojani, nah itu kan mereka berguru pada orang yang sama. Bahkan kita kenal baik dan sering sowan ke keluarga Tjokronegoro,” terang Hanin.

Berkaitan dengan penetapan Hari Jadi Purworejo yang masih menuai pro kontra, bagi Hanin hal itu tidak menjadi masalah di keluarganya. Menurutnya, jika sesuai fakta sejarah Hari Jadi Purworejo harus dirubah dengan merujuk sesuai pelantikan RAA Tjokronegoro I sebagai bupati pertama, hal itu bukan menjadi persoalan.

Ya memang begitu, kalau memang harus dirubah hari jadinya, ya dirubah. Kalau hari jadinya Purworejo pada saat pelantikan Tjokronegoro kan tidak kemudian menjadikan Diponegoro sebagai pengkhianat. Ia tetap pahlawan Nasional,” lanjutnya.

Perihal Hari Jadi Purworejo yang ditetapkan  pada pemerintahan Bupati Gurnito. Prof Dr,Peter Caray  menganggap bahwa Shima Arahiwang yang ditetapkan oleh Perda sebagai tonggak hari jadi kala itu , dianggapnya tidak ada hubungan kesejarahan dengan Purworejo.
Bahkan Peter menyebutnya sebagai sejarah abal abal.
"Ini sebuah pengkhianatan fakta sejarah ", Tandasnya.

Sementara itu sejarawan Inggris yang juga penulis buku ‘Sisi Lain Diponegoro’ juga menyebutkan, dalam Prasati Arahiwang memang tidak disebutkan kapan tanggal lahirnya Kabupaten Purworejo. Namun demikian, menurutnya sejarah hari jadi Purworejo sangat gampang dan mudah dirunut dan dilacak benang merahnya dengan melibatkan orang-orang yang benar-benar kopeten dalam sejarah.
PROF Peter Carey Menjelaskan dihadapan para cendekia Purworejo ( foto SuTa).

Saya yakin berdirinya Puworejo dilandaskan di atas satu sejarah yang nyata di atas Tjokronegoro I, II, III, dan IV. Itu bisa diluruskan.
Dan jika ingin diluruskan. Para intelektual dan sejatawan lokal purworejo harus arif Karena semua tindakan akan dinilai.
Dan Tjokronegoto jangan  dipandang sebagai simbul perlawanan bagi Diponegoro. Sekarang jaman sudah modern. Sementara .Diponegoro dan Tjokronegoro adalah anak haman Kraton..

Prof Peter menjelaskan, sejarah Kota Purworejo adalah sejarah yang mudah dan gampang dilacak. Purworejo ini seperti sejarah kota Bandung. Sangat mudah dilacak.
Sementara menurut Atas Danusubroto ( Penulis Buku Tjokronegoro ),  "Jika kita sama sama melihat sisi lain. Sebenarnya antara Tjokrobegoro dan Diponegoro ini adalah seorang sahabat tunggal guru.
Keduanya murid Kyai Taptonjani ", ungkap Atas Danysubroto.
Masih menurut Atas, bahkan ketika Diponegoro dipanggill Belanda Tjokronegoro juga tau, Ktai Taptonjani juga tahu, bahkan dusarankan supaya menghadap saja. Namun tenyata ada pengkhianatan dipihak Belanda. 
Sedang saat dimintai komentarnya tentang Hari jadi Purworejo, Atas Danusubroto menfanggap perlu ditinjau kembali. Meskipun pihaknya tidak pernah mempertentangkan antara Tjokronegoro dan Diponegoro.
Dosen UGM Wahjudi Djaja, sedang mencermati replika Shima Arahiwang.
( Foto Djaja).

Sementara menurut Dosen Prodi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM, Wahjudi Djaja, Mpd. Menyikapi ada sisi lain, dan cara pandang lain. Maka kita tak boleh saling pilih. Tapi ini merupakam keberagaman pandangan.
Cara pandang saya, adalah pertama untuk kepentingan Nasional, yang kedua Kebermanfaatannya bagi Purworejo.
" saya juga tahu jika Shima Prasasti arahiwang itu, belum menyebutkan nama Purworejo. Maka semya berpulang pada para Intelektual Purworejo. Tentu didukung sejarawan ", tuturnya. ( SuTa).

1 komentar:

  1. Bagi saya, orientasi sejarah berdasar fakta yang ditulis para sejarahwan terdahulu tetap bukan sesuatu yang memiliki harga mati. Perubahan pandangan terhadap suatu 'fakta' sejarah bisa saja terjadi, karena semua tak bisa lepas dari kebijakan politik yang (sedang) berlaku.Sebab semua keputusan hukum setinggi apa pun tetap saja serambut di bawah kebijakan politik. Masalahnya adalah,apakah kebijakan itu berpijak pada sikap nasionalisme atau tidak.Fakta sejarah yang ada, memang nyaris batas-batas aatau terbentuknya negara-negara yang pernah dijajah bangsa Barat, tak lepas dari kebijakan politik (ekonomi) penjajah waktu itu. Namun demikian kiranya tetap harus mengapresiasi tokoh-tokoh sejarah lokal atau nasional yang 'kalah' saat melawan penjajah, tidak semata hanya 'membenarkan' peranan tokoh-tokoh sejarah lokal / nasional yang 'kemenangannya' secara langsung tak langsung 'membela' kebijakan penjajah. Tak lepas dari kekalahannya, dalam sejarah "Purworejo' saya tetap menilai bahwa Pangeran Bei dan Amat Sleman (yang tercatat terbunuh oleh pasukan Tjokronagoro)sejatinya juga pejuang-pejuang yang patriotik, karena sikapnya melawan penjajahan. Yaa, sejarah adalah bagian dari ilmu sosial, dan sebagai ilmu sosial ataak ada rumus 2 x 2 = 4., bisa saja jadi 6 atau 7 atau berapapun tergantung kemauan politik yang sedang memegang tampuk kekuasaan....

    BalasHapus